Tampilkan postingan dengan label Kliping. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kliping. Tampilkan semua postingan

Rabu

Perhumas Muda Yogyakarta Berganti Nahkoda







Hari Selasa malam, 11 September 2012 kemarin menjadi momentum penting bagi Perhimpunan Humas Muda Yogyakarta (PMY). Memasuki tahun ketiga usianya, organisasi yang mewadahi mahasiswa Ilmu Komunikasi konsentrasi Public Relations (PR) dari seluruh kampus di Yogyakarta ini memilih ketua baru untuk melanjutkan roda organisasi selama satu tahun kedepan.

Dalam acara Halal Bi Halal yang berlangsung di Angkringan Teraz, Seturan, Yogyakarta ini, terpilihlah Panggah Pambudi dari UPN “Veteran” sebagai ketua umum periode 2012-2013. Panggah terpilih melalui sistem voting selama dua putaran, setelah mengalahkan empat kandidat lain dari kampus-kampus yang menjadi anggota PMY, diantaranya Durrotul Mas'udah (UIN Sunan Kalijaga), Angelina Linda Dian Hartono (UAJY), Andrian Yulianto (UGM), dan Herni Putrianti (UMY). Para kandidat adalah anggota aktif PMY yang ditunjuk oleh anggota lain untuk mewakili kampus masing-masing menjadi calon ketua. Mereka adalah mahasiswa yang aktif dalam berbagai kegiatan di kampusnya dan yang diselenggarakan oleh PMY. Menurut ketua panitia, Beni Wijaya (UIN Sunan Kalijaga), acara ini bertujuan untuk regenerasi pengurus sebagai pelanjut  tongkat estafeta PMY. “Pengurus periode sebelumnya sebagian telah menjadi mahasiswa tingkat akhir, bahkan beberapa sudah diwisuda dan bekerja. Sehingga dirasa perlu menyelenggarakan pemilihan ketua baru untuk melanjutkan estafeta organisasi,” tambah Beni.

Acara dimulai dengan silaturahim dan berma’af-ma’afan dalam suasana Idul Fitri yang diikuti oleh seluruh anggota yang hadir. Dilanjutkan dengan laporan pertanggungjawaban dari seluruh divisi periode kepengurusan 2011-2012 dibawah kepemimpinan Mufid Salim (UIN Sunan Kalijaga).
“Alhamdulillah, periode kepengurusan kami sudah berjalan dengan maksimal. Banyak kegiatan pengembangan keilmuan PR yang berhasil kita selenggarakan. Kami berharap prestasi ini dapat terus dipertahankan oleh pengurus selanjutnya”, ungkap wakil ketua PMY, Ayudha Ghora Dhira (UGM) dalam laporan pertanggungjawabannya.

Acara kemudian berlanjut dengan pemaparan visi dan misi dari para kandidat. Mereka dituntut untuk dapat meyakinkan para anggota, bahwa mereka layak dipercaya untuk memimpin organisasi selama satu tahun. Acara berlangsung secara interaktif dan meriah. Semua anggota yang hadir diberi kesempatan untuk bertanya langsung tentang program kerja dan gaya kepemimpinan mereka jika mereka benar-benar terpilih. Masing-masing kandidat memiliki pendukung yang solid. Sehingga para kandidat berusaha menarik hati anggota lain melalui paparan visi dan misi jika mereka terpilih sebagai ketua.

Panggah dan Durrotul bersaing cukup ketat pada pemungutan suara putaran pertama. Sehingga mereka lolos sebagai kandidat dua besar. Pada putaran kedua, Panggah berhasil mengumpulkan dua suara lebih banyak di banding Durrotul. Dalam visinya, Panggah berkomitmen untuk membangun sinergitas antara pihak internal dan pihak eksternal PMY untuk mengembangkan pengetahuan kehumasan bagi mahasiswa Ilmu Komunikasi di Yogyakarta.

PMY merupakan organisasi profesi bagi mahasiswa yang memiliki minat di bidang PR. Semenjak pembentukannya pada bulan Mei 2010, PMY rutin menyelenggarakan acara-acara diskusi serta seminar tentang PR di kampus-kampus di Yogyakarta. Dalam satu tahun kepemimpinan Mufid, PMY telah menyelenggarakan beberapa kegiatan diantaranya diskusi tentang PR antar mahasiswa, pelatihan public speaking, Study Excursion (kunjungan) ke beberapa perusahaan di Jakarta, seminar Prospek dan Tantangan PR di Perusahaan Tambang, talkshow Tren Pariwisata di Thailand, dan talkshow Tren PR di Indonesia. Hingga saat ini, anggota PMY berjumlah total 52 orang dari enam kampus di Yogyakarta. Kedepannya, pengurus menargetkan untuk merangkul lebih banyak lagi anggota dari berbagai kampus yang belum bergabung.

“Tanggungjawab mengembangkan ilmu PR di Yogyakarta bukan hanya milik satu kampus, tapi merupakan tanggungjawab bersama semua kampus yang ada. Sehingga kami mengajak para mahasiswa untuk turut merasakan atmosfir dan manfaat yang sama melalui organisasi profesi di tingkat mahasiswa”, tegas Prayudi Ahmad, Ph.D, pembimbing PMY sekaligus anggota Perhumas Badan Pengurus Cabang (BPC) Yogyakarta.

Perhumas Muda juga terdapat di kota-kota lain seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya dan Malang. Masing-masing memiliki kepengurusan dan anggota dari kampus-kampus yang ada di tiap kota tersebut. Perhumas Muda merupakan organisasi yang dibina langsung oleh Perhimpunan Hubungan Masyarakat (PERHUMAS), himpunan praktisi dan akademisi PR di Indonesia yang sudah berdiri sejak tahun 1972.  Untuk wilayah Jogja, PMY di bimbing oleh Perhumas BPC Yogyakarta.

Akhirnya, banyak harapan ditujukan kepada kepengurusan Panggah Pambudi. Semoga dengan semangat dan amunisi baru, dapat terus membawa kapal PMY berlayar lebih jauh lagi. Selamat berjuang dan berkarya, nahkoda baru PMY. Do’a kami menyertaimu.


Kamis

Selamat Ulang Tahun Indonesia Ku


Selalu ada optimisme bagi bangsa ini untuk jadi besar. Kita lah yang akan mewujudkannya. Selamat ulang tahun bangsaku, selamat berulang usia negeriku. Bersatulah selamanya :)

APBN Untuk Pendidikan Tinggi, Bagaimana Penyalurannya?



Upaya mencerdaskan kehidupan bangsa adalah kewajiban negara sesuai dengan amanat Undang-Undang Dasar 1945. Bangsa yang cerdas akan menghasilkan kesiapan diri untuk mengelola seluruh potensi dan sumber daya yang dimiliki. Kesiapan diri tersebut mencakup kesiapan mentalitas, pandangan, sikap, kemampuan dan keterampilan teknis. Melalui pendidikan, suatu bangsa dapat menggali seluruh potensi dan sumber daya yang dimiliki, baik budaya, manusia maupun alamnya untuk memberikan manfaat yang besar bagi seluruh rakyat. Karenanya negara harus terus menerus meningkatkan akses, kualitas, dan keterjaminan pendidikan bagi rakyat. 
Pemerintah telah mengalokasikan sekitar 20 persen Anggaran dan Pendapatan Belanja Negara (APBN) untuk bidang pendidikan. Anggaran ini digunakan untuk pengelolaan pendidikan di Indonesia mulai jenjang anak usia dini hingga pendidikan tinggi. Seperti penyediaan dana bantuan Biaya Operasional Sekolah (BOS), dana tunjangan profesi guru Pegawai Negeri Sipil (PNS), rehabilitasi gedung-gedung, dan penyediaan beasiswa pada semua jenjang pendidikan. Tahun 2012 ini, pemerintah berencana menaikkan anggaran menjadi 20,2 persen atau sejumlah Rp286,6 triliun. Jumlah ini lebih besar dari alokasi APBN untuk pendidikan (APBN-P)  tahun 2011 lalu yang mencapai Rp266,9 triliun.
Memasuki tahun 2012, perlu dilakukan evaluasi sebagai masukan bagi pemerintah terkait penyaluran dana APBN-P di semua jenjang pendidikan, terutama untuk jenjang pendidikan tinggi. Terkait hal ini, tim dari mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga berinisiatif melakukan survey sederhana beberapa waktu lalu. Survey bertujuan untuk mengetahui tingkat pemahaman mahasiswa terhadap alokasi dana APBN-P.
Survey ini melibatkan 98 orang mahasiswa dari berbagai kampus di Yogyakarta, yakni dari UIN Sunan Kalijaga, Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Universitas Islam Indonesia (UII), AKPRIND, dan STPMD “APMD” Yogyakarta.
Ketika ditanyakan mengenai besaran 20 persen alokasi APBN untuk pendidikan, sebagian besar responden (72,7 persen) menjawab anggaran tersebut masih dianggap belum cukup besar. Menurut Ibnu Khaldun mahasiswa Ilmu Komunikasi  STPMD “APMD, anggaran pendidikan memang harus mendapat porsi lebih, jika di bawah standar maka ia menyebutnya sebagai sebuah kegagalan. Sementara menurut Yan Lopo, juga dari STPMD “APMD, pos anggaran APBN-P sudah cukup besar, namun persoalan pendidikan bukan hanya soal dana, “Kalau soal dana, saya kira mungkin sudah cukup,” jawabnya. 
Alokasi APBN-P sebesar 20 persen ternyata dianggap belum mencukupi operasional di Perguruan Tinggi oleh sebagian besar responden (62,5 %). Seperti yang di akui oleh Fitri Aprilia, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politi UMY. Menurutnya, hal ini dibuktikan dengan biaya kuliah di kampusnya yang masih relatif mahal.
Kurangnya pengetahuan mengenai penggunaan alokasi dana APBN-P di Perguruan Tinggi berimplikasi pada manfaat langsung yang dirasakan mahasiswa. Manfaat langsung penggunaan APBN-P dapat berupa beasiswa Bidik Misi bagi mahasiswa beprestasi dan Dana Pendukung Pendidikan (DPP). Hanya 22,7 persen responden menyatakan bahwa mereka merasakan manfaat langsung penyaluran APBN-P. Padahal pemerintah telah mengalokasikankan 20 ribu beasiswa Bidik Misi di tahun 2011. Publikasi yang terbatas, diakui sebagian responden sebagai penyebab informasi tersebut belum menyebar sepenuhnya di kalangan mahasiswa. Menurut Ajeng Praviani, mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam UMY, ia kurang merasakan sepenuhnya dana APBN-P sebesar 20% dari pemerintah. Yang ia tahu anggaran pendidikan tersebut lebih mengarah kepada program wajib belajar sembilan tahun. Sedangkan di kalangan mahasiswa, hal itu kurang atau bahkan tidak terasa sama sekali. 
Di sisi lain, laporan pertanggung jawaban penggunaan APBN-P mendapat sorotan cukup serius oleh sebagian mahasiswa. 29,6 persen mahasiswa yang berpartisipasi dalam survey ini masih meragukan transparansinya. Agustimu, mahasiswa Ilmu Pemerintahan STPMD “APMD, mengungkapkan bahwa selama ini realisasi dana APBN-P tidak dilaporkan secara terbuka kepada masyarakat umum. Hal tersebut diamini oleh Alfan Alfian, mahasiswa jurusan Ilmu Hukum UIN Sunan Kalijaga. Alfan berharap informasi mengenai realisasi APBN-P dapat lebih terbuka untuk diakses oleh masyarakat. Sehingga masyarakat dapat turut memantau penggunaanya. 
Terkait hal ini Drs. Suroyo, Kepala Bidang Perencanaan dan Standarisasi Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dikpora) Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, mengatakan bahwa dana APBN-P telah merata di semua jenjang pendidikan. Termasuk perguruan tinggi negeri maupun swasta. “ Tentunya universitas juga mendapat dana APBN pendidikan. Tak terkecuali universitas swasta. Dana APBN pendidikan untuk universitas negeri disalurkan langsung oleh pusat. Sedangkan dana bantuan untuk universitas swasta di atur oleh Kordinator Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis).,” terang Suroyo saat dijumpai di kantornya.
Suroyo menjelaskan bahwa bentuk penyaluran dana APBN-P bagi perguruan tinggi bisa berupa beasiswa untuk mahasiswa. Seperti beasiswa Bidik Misi, beasiswa prestasi dan beasiswa miskin bagi mahasiswa kurang mampu. Bentuk penyaluran lain adalah melalui program peningkatan kualitas dosen berupa bantuan dana untuk menempuh pendidikan S2 dan S3. 
Ghofur Wibowo, SE. MSc, dosen jurusan Keuangan Islam UIN Sunan Kalijaga, menambahkan meski dari sisi alokasi APBN-P sudah cukup besar, pemanfaatannya sebagian besar digunakan untuk membayar gaji dan tunjangan seluruh tenaga pengajar, mulai dari guru hingga dosen.
Dosen mata kuliah Pelayanan Publik STPMD “APMD”, Tridaya Rini, M.Si, mendukung pengawasan penyaluran dana APBN-P. Menurutnya setelah kebijakan tersebut di implementasikan maka harus disalurkan secara merata hingga ke daerah-daerah.   “Memang pendidikan itu harus mahal! Kalau murah pasti jelek kualitasnya. Tapi mahal kan jangan di bebankan semua pada mahasiswa,” ungkap Rini di ruang kerjanya. 

Minggu

Berkunjung ke Tribun Jogja


Tetaplah Lapar, Tetaplah Bodoh


Tetaplah merasa lapar, tetaplah merasa bodoh. Petikan pidato yang menggugah dari Steve Jobs. Yeah, saya mengambil banyak hal dari apa-apa yang dia perbuat selama hidupnya.
Ini pidato lengkap Steve di Stanford University. Moga bisa menjadi penyemangat kita.



You've got to find what you love

I am honored to be with you today at your commencement from one of the finest universities in the world. I never graduated from college. Truth be told, this is the closest I've ever gotten to a college graduation. Today I want to tell you three stories from my life. That's it. No big deal. Just three stories.

The first story is about connecting the dots.

I dropped out of Reed College after the first 6 months, but then stayed around as a drop-in for another 18 months or so before I really quit. So why did I drop out?

It started before I was born. My biological mother was a young, unwed college graduate student, and she decided to put me up for adoption. She felt very strongly that I should be adopted by college graduates, so everything was all set for me to be adopted at birth by a lawyer and his wife. Except that when I popped out they decided at the last minute that they really wanted a girl. So my parents, who were on a waiting list, got a call in the middle of the night asking: "We have an unexpected baby boy; do you want him?" They said: "Of course." My biological mother later found out that my mother had never graduated from college and that my father had never graduated from high school. She refused to sign the final adoption papers. She only relented a few months later when my parents promised that I would someday go to college.

And 17 years later I did go to college. But I naively chose a college that was almost as expensive as Stanford, and all of my working-class parents' savings were being spent on my college tuition. After six months, I couldn't see the value in it. I had no idea what I wanted to do with my life and no idea how college was going to help me figure it out. And here I was spending all of the money my parents had saved their entire life. So I decided to drop out and trust that it would all work out OK. It was pretty scary at the time, but looking back it was one of the best decisions I ever made. The minute I dropped out I could stop taking the required classes that didn't interest me, and begin dropping in on the ones that looked interesting.

It wasn't all romantic. I didn't have a dorm room, so I slept on the floor in friends' rooms, I returned coke bottles for the 5¢ deposits to buy food in friends' rooms, I returned coke bottles for the 5¢ deposits to buy food with, and I would walk the 7 miles across town every Sunday night to get one good meal a week at the Hare Krishna temple. I loved it. And much of what I stumbled into by following my curiosity and intuition turned out to be priceless later on. Let me give you one example:

Reed College at that time offered perhaps the best calligraphy instruction in the country. Throughout the campus every poster, every label on every drawer, was beautifully hand calligraphed. Because I had dropped out and didn't have to take the normal classes, I decided to take a calligraphy class to learn how to do this. I learned about serif and san serif typefaces, about varying the amount of space between different letter combinations, about what makes great typography great. It was beautiful, historical, artistically subtle in a way that science can't capture, and I found it fascinating.

Foto oleh Diana Walker di ambil dari sini

None of this had even a hope of any practical application in my life. But ten years later, when we were designing the first Macintosh computer, it all came back to me. And we designed it all into the Mac. It was the first computer with beautiful typography. If I had never dropped in on that single course in college, the Mac would have never had multiple typefaces or proportionally spaced fonts. And since Windows just copied the Mac, its likely that no personal computer would have them. If I had never dropped out, I would have never dropped in on this calligraphy class, and personal computers might not have the wonderful typography that they do. Of course it was impossible to connect the dots looking forward when I was in college. But it was very, very clear looking backwards ten years later.

Again, you can't connect the dots looking forward; you can only connect them looking backwards. So you have to trust that the dots will somehow connect in your future. You have to trust in something - your gut, destiny, life, karma, whatever. This approach has never let me down, and it has made all the difference in my life.

My second story is about love and loss.

I was lucky - I found what I loved to do early in life. Woz and I started Apple in my parents garage when I was 20. We worked hard, and in 10 years Apple had grown from just the two of us in a garage into a $2 billion company with over 4000 employees. We had just released our finest creation - the Macintosh - a year earlier, and I had just turned 30. And then I got fired. How can you get fired from a company you started? Well, as Apple grew we hired someone who I thought was very talented to run the company with me, and for the first year or so things went well. But then our visions of the future began to diverge and eventually we had a falling out. When we did, our Board of Directors sided with him. So at 30 I was out. And very publicly out. What had been the focus of my entire adult life was gone, and it was devastating.

I really didn't know what to do for a few months. I felt that I had let the previous generation of entrepreneurs down - that I had dropped the baton as it was being passed to me. I met with David Packard and Bob Noyce and tried to apologize for screwing up so badly. I was a very public failure, and I even thought about running away from the valley. But something slowly began to dawn on me - I still loved what I did. The turn of events at Apple had not changed that one bit. I had been rejected, but I was still in love. And so I decided to start over.

I didn't see it then, but it turned out that getting fired from Apple was the best thing that could have ever happened to me. The heaviness of being successful was replaced by the lightness of being a beginner again, less sure about everything. It freed me to enter one of the most creative periods of my life.

During the next five years, I started a company named NeXT, another company named Pixar, and fell in love with an amazing woman who would become my wife. Pixar went on to create the worlds first computer animated feature film, Toy Story, and is now the most successful animation studio in the world. In a remarkable turn of events, Apple bought NeXT, I retuned to Apple, and the technology we developed at NeXT is at the heart of Apple's current renaissance. And Laurene and I have a wonderful family together.

Foto oleh Diana Walker di ambil dari sini 


I'm pretty sure none of this would have happened if I hadn't been fired from Apple. It was awful tasting medicine, but I guess the patient needed it. Sometimes life hits you in the head with a brick. Don't lose faith. I'm convinced that the only thing that kept me going was that I loved what I did. You've got to find what you love. And that is as true for your work as it is for your lovers. Your work is going to fill a large part of your life, and the only way to be truly satisfied is to do what you believe is great work. And the only way to do great work is to love what you do. If you haven't found it yet, keep looking. Don't settle. As with all matters of the heart, you'll know when you find it. And, like any great relationship, it just gets better and better as the years roll on. So keep looking until you find it. Don't settle.

My third story is about death.

When I was 17, I read a quote that went something like: "If you live each day as if it was your last, someday you'll most certainly be right." It made an impression on me, and since then, for the past 33 years, I have looked in the mirror every morning and asked myself: "If today were the last day of my life, would I want to do what I am about to do today?" And whenever the answer has been "No" for too many days in a row, I know I need to change something.

Remembering that I'll be dead soon is the most important tool I've ever encountered to help me make the big choices in life. Because almost everything - all external expectations, all pride, all fear of embarrassment or failure - these things just fall away in the face of death, leaving only what is truly important. Remembering that you are going to die is the best way I know to avoid the trap of thinking you have something to lose. You are already naked. There is no reason not to follow your heart.

About a year ago I was diagnosed with cancer. I had a scan at 7:30 in the morning, and it clearly showed a tumor on my pancreas. I didn't even know what a pancreas was. The doctors told me this was almost certainly a type of cancer that is incurable, and that I should expect to live no longer than three to six months. My doctor advised me to go home and get my affairs in order, which is doctor's code for prepare to die. It means to try to tell your kids everything you thought you'd have the next 10 years to tell them in just a few months. It means to make sure everything is buttoned up so that it will be as easy as possible for your family. It means to say your goodbyes.

I lived with that diagnosis all day. Later that evening I had a biopsy, where they stuck an endoscope down my throat, through my stomach and into my intestines, put a needle into my pancreas and got a few cells from the tumor. I was sedated, but my wife, who was there, told me that when they viewed the cells under a microscope the doctors started crying because it turned out to be a very rare form of pancreatic cancer that is curable with surgery. I had the surgery and I'm fine now.

This was the closest I've been to facing death, and I hope its the closest I get for a few more decades. Having lived through it, I can now say this to you with a bit more certainty than when death was a useful but purely intellectual concept:

No one wants to die. Even people who want to go to heaven don't want to die to get there. And yet death is the destination we all share. No one has ever escaped it. And that is as it should be, because Death is very likely the single best invention of Life. It is Life's change agent. It clears out the old to make way for the new. Right now the new is you, but someday not too long from now, you will gradually become the old and be cleared away. Sorry to be so dramatic, but it is quite true.

Your time is limited, so don't waste it living someone else's life. Don't be trapped by dogma - which is living with the results of other people's thinking. Don't let the noise of other's opinions drown out your own inner voice. And most important, have the courage to follow your heart and intuition. They somehow already know what you truly want to become. Everything else is secondary.

When I was young, there was an amazing publication called The Whole Earth Catalog, which was one of the bibles of my generation. It was created by a fellow named Stewart Brand not far from here in Menlo Park, and he brought it to life with his poetic touch. This was in the late 1960's, before personal computers and desktop publishing, so it was all made with typewriters, scissors, and polaroid cameras. It was sort of like Google in paperback form, 35 years before Google came along: it was idealistic, and overflowing with neat tools and great notions.

Stewart and his team put out several issues of The Whole Earth Catalog, and then when it had run its course, they put out a final issue. It was the mid-1970s, and I was your age. On the back cover of their final issue was a photograph of an early morning country road, the kind you might find yourself hitchhiking on if you were so adventurous. Beneath it were the words: "Stay Hungry. Stay Foolish." It was their farewell message as they signed off. Stay Hungry. Stay Foolish. And I have always wished that for myself. And now, as you graduate to begin anew, I wish that for you.

Stay Hungry. Stay Foolish.

Thank you all very much.

Steve Jobs, CEO of Apple Computer and of Pixar Animation Studios, delivered on June 12, 2005

----

Tugas Humas di Dunia Pertambangan Makin Berat



Tantangan profesi hubungan masyarakat (Public Relation / PR) semakin berat khususnya bagi pekerja di dunia pertambangan. Pasalnya, mereka harus mampu menyinergikan kebutuhan perusahaan dengan kebutuhan publik. Seorang public relation juga harus mampu menjalin hubungan baik dengan semua pihak yang terkait dengan perusahaan (stakeholder).

Hal ini disampaikan oleh Sari Esayanti, Superintendent External Stakeholder & Institutional Relations PT Freeport Indonesia di acara Seminar “Prospek dan Tantangan PR Perusahaan Tambang di Indonesia”. Pada seminar yang diselenggarakan oleh Perhumas Muda Yogyakarta (PMY) ini, Santi memaparkan bagaimana selama ini PR dari PT Freeport membuat program untuk menjalin komunikasi yang baik dengan segala pihak, baik masyarakat, pemerintah, maupun media.



“Sebuah perusahaan, dalam hal ini PR-nya, harus sadar betul bahwa lingkungan berpengaruh sangat besar terhadap masyarakat. Melakukan mediasi serta membuat program untuk masyarakat, CSR (Corporate Social Responsibility) misalnya, dapat dilakukan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, terutama setelah penambangan selesai,” ungkapnya.

Sari menambahkan, saat ini banyak sekali isu yang bisa diangkat untuk membuat program kehumasan. “Saat ini, banyak sekali tren isu yang dapat diangkat sebagai upaya untuk berkomunikasi dengan masyarakat. Seorang PR bisa konsen terhadap isu pendidikan, sosial budaya, kesehatan, dan masih banyak lagi, semakin banyak isu dan masalah justru seharusnya menghadirkan ide yang lebih beragam lagi,” lanjutnya.

Senada dengan Sari, Fadjar Widijanta, Government Relations and General Affairs PT Adaro Indonesia, juga memaparkan bagaimana isu-isu terkini dikemas sebagai program CSR. Menurutnya, CSR merupakan sebuah cara berkomunikasi, mensosialisasi, dan menjaga hubungan baik antara perusahaan dengan lingkungan sekitar. “Peran PR sangat diperlukan untuk membangun persepsi positif di masyarakat luas. PR dan CSR hanya akan berjalan efektif jika datanya akurat dan timnya tepat. Pemilihan media yang tepat juga berpengaruh pada keberhasilan komunikasi yang dibangun,” terangnya.






Sementara ketua panitia, Yudha Arya Chandra, mengaku senang karena acara ini terbilang cukup sukses, dilihat dari target peserta yang terpenuhi. Selanjutnya, diharapkan mahasiswa PR akan mampu berakselerasi dengan tuntutan kompetensi yang ada. “Semoga dengan acara ini, mahasiswa PR akan mendapatkan banyak pembelajaran akan kebutuhan kompetensi di dunia kerja yang sesungguhnya, terutama bagi mereka yang tertarik masuk ke perusahaan tambang,” ujarnya.

Jumat

Jadwal Puasa Sunnah 2010


Bismillah..........

1. Puasa sunnah tiap hari Senin dan Kamis

2. Puasa Tiga Hari Setiap Bulan (Tanggal 13,14,15 di kalender Islam)
- 30, 31 Desember 2009, 1 Januari 2010/Muharram 1431 H
- 28, 29, 30 Januari 2010/Shafar 1431 H
- 27,28 Februari, 1 Maret 2010/Rabi’ul Awwal 1431 H
- 29, 30, 31 Maret 2010/Rabi’ul Akhir 1431 H
- 27, 28, 29 April 2010/Jumadil Awwal 1431 H
- 27, 28, 29 Mei 2010/Jumadil Akhir 1431 H
- 25, 26, 27 Juni 2010/Rajab 1431 H
- 25, 26, 27 Juli 2010/Sya’ban 1431 H
- Puasa (wajib) Ramadhan 1431 H - 11 Agustus - 9 September 2010 ***t275: dengan demikian, tidak ada puasa sunnah 3 hari di bulan Ramadhan..***
- 22, 23, 24 September 2010/Syawwal 1431 H
- 21, 22, 23 Oktober 2010/Dzulqa’idah 1431 H
- 19, 20, 21 November 2010/Dzulhijjah 1431 H. ***tgl 19 November = hari terakhir Tasyriq, tidak boleh berpuasa***

3. Puasa Sepertiga Bulan - Yakni di bulan Dzulhijjah (antara 7 November - 6 Desember 2010).
Puasa tanggal 9 Dzulhijjah (Arafah) bagi selain orang yang melaksanakan haji. Tanggal 15 November 2010.
Puasa dilakuan 7 November - 15 November 2010, terputus dengan idul Adha dan hari Tasyrik,dilanjutkan lagi tgl 20 & 21 November 2010.

Tidak boleh berpuasa :
Hari Idul Adha - 10 Dzulhijjah / 16 November 2010.
Hari tasyriq 11,12,13 Dzulhijjah / 17, 18, 19 November 2010.

4. Puasa Bulan Muharram - ‘Asyura’ selama 3 hari - 9, 10, 11 Muharram
Sangat dianjurkan tanggal 9 dan 10 (Tasu’a dan ‘Asyura) 26, 27, 28 Desember 2010.

5. Puasa pada sebagian bulan Sya’ban
Antara 13 Juli - 10 Agustus 2010.

6. Puasa pada bulan Syawal - 6 hari
Tidak diperkenankan puasa pada 1 Syawal (10 September 2010)
Antara 11 September - 8 Oktober 2010.

7. Puasa Daud - berpuasa selang seling
Berpuasa satu hari lalu berbuka satu hari. *kecuali hari2 yang dilarang berpuasa*

Semoga bermanfaat

Kamis

Peta Buta Imajinasi Kita


"Mereka yang merencakan mimpinyalah yang akan bertahan. Mereka adalah orang-orang yang punya modal cukup untuk mewujudkannya"

Anda seperti sebuah menara penyiaran, yang memancarkan frekuensi dengan pikiran-pikiran Anda. Jika Anda ingin mengubah sesuatu dalam hidup Anda, ubahlah frekuensi Anda dengan mengubah pikiran Anda.

Demikianlah penggalan kalimat yang dikemukakann Rhonda Byrne dalam bukunya yang fenomenal "The Secret" mengenai pentingnya sebuah pikiran, imajinasi, dan visi. Ketiga hal tersebut, walau bukan hal yang tangiable, namun menjadi faktor utama penentu kesuksesan dan keberhasilan seseorang dalam hidupnya. Bisa dipastikan hampir setiap orang pernah berimajinasi dan merancang akan seperti apa masa depannya, akan tetapi hanya segelintir orang yang berani mempertaruhkan segalanya, mau terombang ambing ditengah kerasnya alur kehidupan, demi mewujudkan imajinasi masa depannya dan ia berhasil.

Mimpi sepadan dengan kata "imajinasi" yang dibalut kata lain dengan penambahan makna "keinginan". Ya, mimpi adalah bayangan yang selalu terngiang-ngiang dikepala. Entah saat kita terjaga maupun terlelap. Mimpi dengan objek diri kita sendiri adalah keadaan yang kita inginkan terjadi pada masa depan kita. Kesuksesan, kekayaan, cinta, surga, kesejahteraan, adalah hal yang diinginkan sebagian besar manusia dimasa depannya. Namun, semua itu tidaklah didapat dengan mudah dan murah. Perlu kesabaran, pengorbanan, dan perjuangan untuk menebusnnya. Dan sekali lagi, dalam hal inilah manusia mudah sekali tergelincir ke jurang kegagalan karena keputusannya untuk menyerah dan tidak bangkit.

Banyak diantara kita memiliki mimpi-mimpi besar, tapi tidak tahu bagaimana cara menggapainya. Mimpi hanya menjadi sebuah konsep, tanpa perencanaan apalagi eksekusi. Tidak tahu jalan yang harus dituju untuk merealisasikan mimpinya. Hal ini dikarenakan daya imajinasi yang terperangkap dalam ruang kreativitas yang sempit sehingga sulit untuk berkembang, minim akan inovasi. Kebanyakan dari kita akhirnya hanya bisa menjadi follower yang tidak bisa menemukan jalannya sendiri. Walhasil mimpi-mimpi besar itu hanyalah tinggal mimpi-mimpi kosong yang akhirnya coba untuk dilupakan.

Maka, mereka yang merencanakan mimpinyalah yang akan bertahan. Mereka adalah orang-orang yang punya modal cukup untuk mewujudkannya. Banyak tokoh terkenal yang bisa jadi inspirasi, banyak ayat Al-Qur'an yang bisa jadi bukti, apa yang berhasil diraih dimasa depan bukanlah keberuntungan semata, akan tetapi buah kebiasaan, sikap, dan usaha yang diterapkan semasa kecil dan terus berlanjut hingga dewasa. Sesungguhnya itulah tolak ukur jalan keberhasilan.
Esok adalah mimpi hari ini. Kemarin hanyalah sebuah mimpi dan esok adalah sebuah visi. Maka terangilah hari esokmu dengan hari ini. Beranikah kita untuk bermimpi?

Kliping dari Sintaksis, Majalah Kampus UII Fak. Ekonomi
Ditulis oleh Muh. Fauzan Al-Asyiq