Tampilkan postingan dengan label Public Speaking. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Public Speaking. Tampilkan semua postingan

Sabtu

3 tips for handling emotion during a speech or interview


These tactics can help you (or your client) better control and manage emotions.



What should you do when you find yourself getting emotional during a speech or media interview? Here are three things to keep in mind:

1. Ask yourself whether it's OK to be emotional. Most audiences understand why a burn survivor might get emotional when discussing his or her injury. Exhibiting emotion may feel uncomfortable, but in some cases, it may actually enhance your delivery. So don't automatically try to squelch your emotion just because you're embarrassed by it.

Context matters. When a loving mother, a caring zookeeper, or a disabled burn survivor cries when telling their story, the public tends to understand and empathize. When House Speaker John Boehner cries (as he does regularly), well, that's a different story.

2. Take a moment. If you get choked up for a moment, stop talking for a few seconds instead of rushing through your remarks—just put your head down and pause for a few seconds, then look up and continue when you're ready.

If you're more than just momentarily choked up and fear you may not be able to continue at all, you may need to move on to the next option.

3. De-personalize and detach. When people get emotional during a talk, it's usually because they're too close to the material. By de-personalizing their stories, they're often able to get through the material much more easily.

For example, the mother might have said:
"I know that some people think virtual home schooling is strange, but I love my kids [begins to choke up] and other people have no right to judge me [begins to tremble and sob]. You know [begins to de-personalize], it's not just about me and my choice. Thousands of parents in our state have decided to pursue virtual schooling for their children, and there are several good reasons for that, such as…."
When emotional speakers make their content less concrete and more abstract, they can often proceed without emotion getting in their way. And once they're on more solid ground, they can return to the more emotional parts of their story—if and when they're ready.

Visit the Mr. Media Training Blog to see the 21 Most Essential Media Training Links. Brad Phillips is the author of the Mr. Media Training Blog and president of Phillips Media Relations, which specializes in media and presentation training.

Kamis

Presentasi Kuliah yang Keren

Presentasi atau berbicara di muka umum, terdengar manakutkan bagi sebagian orang. Termasuk saya. Setiap kali ditunjuk untuk maju dan berbicara di hadapan beberapa orang, saya selalu gemetaran. Jantung berdetak lebih cepat dari biasanya. Benar-benar hal yang nggak nyaman. Walaupun dulunya ketika menuntut ilmu di pondok, selalu ada latihan pidato setiao malam Jum'at, ternyata itu tidak membuahkan hasil apa-apa.
Saya pun mau tak mau harus belajar mengendalikan kata, agar bisa berbicara. Latihan dimulai ketika saya aktif di BEM Politeknik Negeri Malang. Berawal dari pembicaraan di hadapan grup kecil, semakin membesar, hingga audiens yang berasal dari seluruh fungsionaris. Yeah, latihan memang harus selalu dari lingkup yang terkecil.
Tantangan berikutnya, saya ambil ketika kami mempunyai program kerja Rapat Tahunan dengan Pimpinan Kampus. Rapat tersebut menghadirkan para petinggi kampus dan di hadiri oleh perwakilan dari seluruh Mahasiswa aktif. Rapat tersebut membahas berbagai hal tentang kebijakan kampus. Pengalaman pertama bagi saya, menjadi MC di acara formal. Banyak reaksi baik positif maupun negatif mengenai penampilan saya saat itu. Tapi tak masalah, namanya juga latihan.
Lama tak melatih kemampuan bicara, karena "kabur" ke Jogja. Saya kembali dihadapkan pada permasalahan yang sama. Mengingat, kuliah yang saya ambil adalah komunikasi, jadi hampir semua pertemuan kuliah mensyaratkan presentasi dalam kegiatan pembelajarannya. Wah, kacau deh...
Tugas pertama, ketika ada mata kuliah Akhlak Tasawuf. Dengan persiapan seadanya, saya mencoba memunculkan kembali keberanian yang terpendam itu. Bermodal hafalan tentang materi yang akan di sampaikan, saya nekat mencoba berimprofisasi ketika berbicara. Hal itu memunculkan komentar dari teman-teman, salah satunya bilang bahwa saya lebih cocok jadi pembawa acara infotainment. He...
Pengalaman adalah guru terbaik, terlebih pengalaman orang lain, guru yang paling baik. Karena kita bisa cepat belajar, tanpa melewati semua proses yang sama. Tak perlu Trial Error terlalu banyak. Konsep ini saya anut, karena bagi saya, waktu adalah segalanya. Nggak rela aja, terbuang buat yang nggak penting.
Beruntung, ada TV One yang Road Show ke Jogja ketika itu. Saya mengamati betul, bagaimana cara ketiga pembicaranya melakukan presentasi. Membuat para hadirin serius mendengarkan apa yang mereka sampaikan. Sangat inspiring!
Berikutnya, saya selalu terpesona dengan salah satu dosen, yang mampu menyampaikan mata kuliah dengan sangat menarik. Seakan-akan membawa kami ke dunia lain. Lebay model ON. He...
Ternyata semua itu ada ilmunya, yaitu, retorika. Teknik dasarnya sederhana; penemuan, penyusunan, gaya, memori, dan penyampaian.
Penemuan berarti poin dan kata kunci yang ingin disampaikan harus kita ketahui, agar arah pembicaraan jelas.
Penyusunan berarti urutan-urutan yang ingin disampaikan, kita akan mulai berbicara darimana hingga menuju poin inti.
Gaya berarti pembawaan kita saat berbicara, berbicara dengan gaya kita sendiri akan lebih berhasil. Disamping karena kita lebih rileks, juga membuat audiens nyaman.
Memori berkaitan dengan ingatan dan pengetahuan kita tentang topik yang akan dibahas. Untuk yang satu ini, banyak membaca sangat di anjurkan, karena akan memperluas pengetahuan kita, serta memudahkan kita untuk mengkaitkan topik bahasan kedalam contoh kehidupan sehari-hari.
Penyampaian menjadi poin akhir, karena menjadi pembungkus semua teknik di atas. Kalau saya pribadi mengartikan penyampaian seperti cara kita berbicara dengan orang lain. Menatap mata audiens, fokus, tidak terpengaruh keadaan, mempengaruhi audiens dengan pola pikir kita dan sebagainya. Agak kompleks, tapi bisa ditemukan dengan latihan terus menerus.

Dari ilmu tersebut, saya adopsi sedikit. Dan ketika kemarin mendapat tugas presentasi mengenai Perspektif Komunikasi Internasional, saya memanfaatkannya dengan maksimal.
Persiapan yang cukup, selain dari buku acuan juga bacaan tambahan yang melimpah di internet.
Mencoba mengkaitkan contoh-contoh dengan kehidupan sehari-hari, selain memudahkan kita mengingat poin yang ingin disampaikan, juga akan lebih diterima audiens.
Menggunakan humor-humor ringan yang sedang hangat diperbincangkan diantara teman-teman.
Dari sisi slide Power Point, saya membuatnya jadi lebih simpel, tulisan yang singkat dan tidak terlalu banyak. Berikan tambahan gambar yang cocok. Ibarat iklan, audiens hanya butuh waktu kurang lebih 5 detik untuk mencerna isi sebuah slide, jadi hindari item-item yang tidak penting.
Dan terakhir, intonasi kita sangat berpengaruh. Tempatkan pada saat yang tepat, tinggi dan rendah.

Dan hasilnya, applaus dan komentar positif berdatangan...
Senang sekali rasanya. Yeah, saya pun harus terus belajar, agar bisa sekaliber Tantowi Yahya, Oprah, dan Larry King.
Mari, kita terus belajar kawan!