Tampilkan postingan dengan label Fotografi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fotografi. Tampilkan semua postingan
Sabtu
Minggu
Mahasiswa Bicara!
Seperti halnya perokok, semua perokok tau bahwa merokok itu berbahaya bagi kesehatan dan merugikannya secara ekonomi. Tapi tak pernah mudah bagi perokok untuk menghentikan kebiasannya itu. Maka, jika sebuah negara ingin mengurangi jumlah perokok, bukanlah dengan cara menyuruh perokok berhenti dengan menakut-nakutinya, atau membatasi hak perokok untuk merokok sementara penjual dan industri rokok dibiarkan begitu saja. Jika ingin mengurangi jumlah perokok, hal yang paling ekstrem (jika berani) adalah dengan melarang industri dan juga peredaran rokok. Tetapi yang paling bijak adalah, dengan mencegah perokok-perokok baru (yang nantinya akan sulit berhenti merokok). Lakukan edukasi terhadap para pemuda yang sering memulai ‘belajar’ merokok karena alasan-alasan yang remeh-temeh, gengsi, misalnya. Perketat larangan penjualan rokok pada anak di bawah umur. Atau, upaya-upaya lain yang preventif, bukan mengurusi yang sudah terlajur jadi perokok.
Nah, ibarat persoalan rokok, memberesi mental jurnalis untuk melahirkan generasi jurnalis dan jurnalisme yang berkualitas, akan sulit dilakukan pada para jurnalis yang sudah dikotori oleh berbagai tekanan dan kepentingan seperti yang sudah dibahas di atas. Untuk melahirkan generasi jurnalis yang baik, akan lebih efektif jika dilakukan dengan menanamkan nilai-nilai jurnalisme yang ideal itu di kalangan generasi baru, baik yang sudah menjadi jurnalis, maupun yang baru berstatus calon atau bercita-cita menjadi jurnalis.
Pers kampus - yang dikelola oleh mahasiswa atau pelajar - adalah generasi emas. Mereka adalah generasi pers yang masih polos atau bersih. Mereka masih cenderung bebas dari kepentingan. Mereka masih cenderung bebas dari tekanan. Mereka harus dijaga agar tetap seperti itu, ketika suatu saat mereka terjun ke dalam dunia jurnalistik yang nyata. Berilah mereka imunisasi agar kebal dari infiltasi kepentringan, juga kekuatan untuk menghadapi tekanan, dan kukuh dalam idealisme jurnalisme yang sesungguhnya.
Tulisan-tulisan dalam buku ini adalah hasil dari upaya untuk belajar menjadi generasi pers yang bebas dari kepentingan dan tekanan. Tidak perlu rasanya memperdebatkan atau menggugat hasil yang tertampak –yang mungkin masih banyak kekurangan di sana-sini, terutama dalam hal teknis. Karya-karya ini bukan hasil akhir, tapi proses. Proses untuk menjadi jurnalis yang peka terhadap persoalan di sekitarnya, jurnalis yang bebas menyuarakan kata hatinya, jurnalis yang bebas dari kepentingan, jurnalis yang memegang teguh idealismenya, taat pada rambu dan etika jurnalisme, dan proses untuk menjadi jurnalis yang membawa manfaat bagi khalayaknya.
Buku ini diterbitkan atas kerjasama:
Program Studi Ilmu Komunikasi Uin Sunan Kalijaga Jogja
Komunitas Rumah Inspirasi Idekata
dan Penerbit Galuh Patria
Informasi Pemesanan:
Amin [0818 0391 2005 ]
galuhpatriapublishing@gmail.com
Jumat
Rokok Kretek Ternyata Obat Asma
Tahukah anda, ternyata rokok kretek dulunya terinspirasi dari obat asma?
Begini ceritanya…
Sejarah industri rokok kretek di Indonesia tak dapat dipisahkan dari sosok Haji Djamahri, seorang penduduk di Kudus. Pada suatu waktu di tahun 1880, Haji Djamahari yang telah lama mengidap penyakit asma mencoba mengobati penyakitnya. Ia menggosok-gosokkan minyak cengkeh ke bagian dada dan punggungnya. Cara ini cukup berhasil mengurangi rasa sakitnya, walaupun belum sembuh total. Selanjutnya ia mencoba mengunyah cengkeh yang ternyata membuatnya jauh lebih baik. Sehingga terlintas dalam fikirannya untuk memasukkan cengkeh ke dalam paru-parunya.
Haji Djamhari kemudian merajang cengkeh hingga halus, lalu dicampurkan dalam tembakau yang biasa ia gunakan untuk merokok. Dengan cara ini ia dapat menghisap asap cengkeh yang bercampur tembakau tersebut. Tanpa diduga, penyakit asmanya sembuh.
Cara pengobatan ini dengan cepat dikenal oleh masyarakat sekitar tempat Haji Djamhari tinggal. Keluarga dan teman-temannya mulai banyak memesan rokok mujarab yang dihisapnya. Hingga memaksa Haji Djamhari membuat rokok campuran cengkeh dalam jumlah besar. Banyak orang yang kemudian mencoba mengikuti jejaknya, sehingga lahirlah industri rokok di Kudus.
Pada awalnya, masyarakat Kudus menyebut jenis rokok hasil temuan Haji Djamhari sebagai “rokok cengkeh”. Namun, karena rokok ini menimbulkan suara “kretek-kretek” saat dihisap akibat campuran rajangan cengkeh, rokok ini kemudian dinamakan “rokok kretek”. Nama ini merupakan contoh penggunaan bahasa anomatopeia untuk objek yang namanya berasal dari bunyi yang dihasilkan.
Pada tahun-tahun pertama kelahirannya, perdagangan rokok kretek hanya terbatas di Kudus dan sekitarnya. Namun, dalam waktu singkat rokok kretek juga digemari di daerah-daerah lain. Sedikit demi sedikit jangkauan pasar rokok kretek meluas, menjangkau berbagai daerah di dalam dan luar pulau Jawa.
Nah, bagi para perokok, bagaimana pendapat anda?
Kamis
Kaos KKN UIN Sunan Kalijaga Angkatan 77
Wah, tak terasa KKN 77 UIN Sunan Kalijaga udah selesai. Banyak kenangan yang tak terlupakan bersama teman-teman kelompok, remaja dan warga masyarakat di lokasi KKN. Yang terpenting adalah bagaimana upaya kita menjaga silaturahim agar tidak terputus, agar pintu rezeki tetap terbuka untuk kita.
Abadikan kenangan KKN mu dengan kaos keren. Yang bisa kamu pakai kemanapun, berfoto ria dimanapun bersama sahabat-sahabatmu. Hanya dengan Rp 40.000 untuk kenangan terindahmu.
Langsung ambil HP mu, dan pesan sekarang juga ke
DIHAN [ 0857 4370 5841 ]
MUFID [ 0857 4234 2030 ]
Ukuran yang tersedia, S, M, L, dan XL.
Yuk, jangan lewatkan kesempatan berharga ini :)
Persembahan terbaik, dari COLORFULL CLO.TH.INC
Selamat Ulang Tahun Indonesia Ku
Selasa
My Photograph on Vote#12 Mandala Krida
Mengabadikan momen konser memiliki tantangan tersendiri. Selain kita dituntut jeli untuk menangkap momen yang menarik. Misalnya ketika menangkap momen ketika asap buatan muncul diselingi permainan lampu latar yang meriah.
Peralatan kita juga dituntut memadai. Karena setiap konserp pasti penuh sesak dengan penonton. Disaat inilah, lensa tele sangat berguna. Selamat mencoba kawan :)
Minggu
My Photograph on Jogja Japan Week 2012
Senin
Sak Wong Sak Wit Untuk Indonesia
![]() |
| Serah terima pohon dari peserta, di wakili tim dari WALHI DIY, kepada Ketua Karang Taruna Nglanggeran (pertama dari kiri) dan Kepala Desa Nglanggeran (kedua dari kiri). |
![]() |
| Suasana penandatanganan komitmen bersama peduli lingkungan di puncak kawasan Ekowisata Gunung Api Purba Nglanggeran |
Colorfull Management Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora, UIN Sunan Kalijaga
Yogyakarta bekerja sama dengan Karang Taruna Bukit Putra Mandiri Nglanggeran mengadakan acara Jambore Penghijauan dengan tajuk Sak Wong Sak Wit, Save Earth with Heart. Acara ini diselenggarakan dengan tujuan untuk menggugah kesadaran masyarakat tentang pentingnya penghijauan.
Acara yang diselenggarakan pada Minggu (01/07) di kawasan Ekowisata Gunung Api Purba Nglanggeran ini diikuti oleh kurang lebih 250 peserta dari berbagai lapisan masyarakat. Menurut pemaparan Emir Nuswantoro, wakil ketua Karang Taruna Provinsi DIY dalam sambutannya, “Acara ini sangat menarik, mulai dari tema acara hingga pelaksanaannya. Sangat menggugah kesadaran akan pentingya gerakan peduli lingkungan”. Beliau sangat mengapresiasi semangat anak muda yang peduli lingkungan dengan melakukan penghijauan. Selain penghijauan, jambore ini juga diisi dengan tracking dan bersih gunung di kawasan Ekowisata Gunung Api Purba.
Harapan lain dikemukakan oleh Ahmad Baihaqi selaku ketua panitia agar kegiatan ini menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk selalu mencintai lingkungan dan diharapkan kegiatan serupa dapat dilakukan kembali.
Langganan:
Postingan (Atom)















































