Tampilkan postingan dengan label Mutiara Kata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mutiara Kata. Tampilkan semua postingan

Selasa

YOT Walk Memperingati Hari AIDS Se-Dunia
















Memperingati hari AIDS se-dunia yang jatuh tepat pada tanggal 1 Desember 2013, Young On Top Yogyakarta mengadakan #YOTWalk bertemakan "Jalan Sehat dan Bersih Jalan."

#YOTWalk diadakan di sepanjang Jalan Malioboro Yogyakarta, dimulai dari depan Hotel Ina Garuda dan finish sampai titik 0 km Yogyakarta. 

Young On Top Yogyakarta, dalam #YOTWalk ini, juga mengajak YOTers, anak-anak muda Yogyakarta, dan komunitas-komunitas yang concern di bidang lingkungan dan kesehatan, diantaranya Earth Hour Jogjakarta, HiLo Yogyakarta, Green Technology, L-Men Yogyakarta, Jogja Berkebun, Yayasan KAGEM, dan masih banyak lagi yang lain.

Young On Top Yogyakarta mengucapkan terima kasih dan memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh YOTers yang terlibat, para media partner dan instansi pemerintah, teman-teman komunitas, yang semuanya telah ikut membantu mensukseskan kegiatan ini. Mari terus jaga kontak, jaga semangat, untuk kolaborasi dan beraksi!

Project #YOTWalk ini didukung oleh Badan Lingkungan Hidup Provinsi DI Yogyakarta, Hotel Inna Garuda, Kedaulatan Rakyat, Tribun Jogja, Jogja TV, Adi TV, Jogjaku, dan Jogja Wisata

See you on TOP!

Let's talk about #passion


Sebelum rehat malam ini, saya mau mencoba berbagi renungan dengan teman-teman di seentaro negeri. Kali ini saya ingin berbagi pemikiran tentang makna berkarya. Saya teringat dengan nasehat salah seorang guru di kampus, bahwa membuat setiap apa yang kita lakukan sebagai sebuah mahakarya, maka kepuasannya akan berbeda, hasilnya pun akan berbeda. 

Berkarya bukan berbicara tentang benefit atau uang yang dihasilkan dari suatu tugas atau pekerjaan,tapi kebanggaan setelah melakukannya. Sesuatu yang membuat kita bisa berkata "we have did it!" Maka kita pun akan melakukannya dengan sepenuh hati dan semaksimal usaha. Apalagi yang kita kerjakan itu memang menjadi bagian dari passion kita. Ketika mengerjakannya, membuat hati riang. Dan setelah selesai pikiran menjadi senang.  

Berbicara mengenai passion, beberapa teman membenarkan bahwa mengerjakan sesuatu yang jadi passion kita akan membuat kita merasa hidup. Hidup dengan cara yang selalu menyenangkan tiap waktunya. Karena memang kita senang mengerjakannya. Dan sesuatu itu bisa bermanfaat buat diri kita, terlebih juga orang lain. 

Belajar dari pengalaman beberapa teman, terkadang mengerjakan mengerjakan hal yang menjadi passion kita, bisa menjadi ruang refreshing dikala tugas-tugas menumpuk ataupun suasana hati sedang jenuh. Semacam meletupkan energi kala engine kita sedang down.

Jika kita sudah menemukan apa yang menjadi passion kita, ada baiknya untuk mengembangkannya. Caranya dengan sharing bersama teman-teman sejawat yang memiliki passion sama. Obrolan-obrolan dengan teman sejawat bisa membantu kita menemukan ide baru. Ide-ide yang membuat kita bisa berkarya atau memberi solusi terhadap suatu permasalahan, sesuai dengan bidang yang kita tekuni.

Obrolan juga akan bisa lebih berkembang jika teman-teman sejawat yang punya passion sama tersebut, punya latar belakang bidang yang berbeda.  Ide awal yang sederhana bisa jadi makin kaya ketika diberi tambahan bermacam-macam perspektif. Memperbanyak obrolan positif dengan banyak orang positif akan membantu mengembangkan ide kita. Obrolan akan memperkuat ide kita.

Nah, jadi mulai sekarang, yuk kita mulai menyelami passion kita, lanjutkan dengan sharing bersama teman-teman positif, temukan ide-ide keren dan eksekusi bareng-bareng. Keliatannya, akan selalu menjadi hal yang seru deh. Gimana menurut rekan-rekan?


Jumat

Cepatnya Sebuah Kematian


Ada cerita, moga berguna....

Seusai dhuha pagi ini, ingatan saya melayang jauh ke masa-masa awal kuliah dan berpindah kos. Tersebutlah seorang wanita paruh baya berperawakan gemuk. Saya memanggilnya Bude Nar. Beliau adalah kakak dari Pak Gun, pemilik kos yang saya tinggali sejak awal kuliah. Kami para anak-anak kos mengenalnya cukup dekat. Dari seluruh anggota keluarga Pak Gun, beliau lah yang paling dekat. Karena beliau yang lebih sering mengurusi administrasi kos-kosn. 

Bude Nar cukup disiplin mengenai kebersihan kos kami. Jika plastik sampah mulai penuh, beliau akan mengingatkan agar kami segera membuangnya. Jika mengecek kamar mandi dan menemukan bekas sachet sampoo yang tidak di buang di tempat sampah, beliau langsung memperingatkan teman-teman kos yang di temuinya. Jika kamar mandi mulai kotor, beliau langsung mengingatkan penghuni kos untuk membersihkan. Selang sehari, biasanya kami pun langsung melakukan operasi eksekusi sesuai komando dengan personil penuh. Dan setelahnya, teh panas dan gorengan selalu tersedia di meja tamu, siap tuk kami santap.

Saya pribadi juga mengenalnya cukup dekat. Saya sering diminta tolong berbagai hal. Karena mungkin usia Bude Nar sudah menginjak lanjut, beliau agak kurang akrab dengan berbagai gadget yang dimilikinya. Jika ada trouble, saya sering dipanggil untuk mengutak-atik. Beliau juga sering bercerita tentang penyakit yang dideritanya setiap selesai check up.

***

Enam bulan yang lalu, saya mendapat tugas pengabdian masyarakat. Karena tinggal cukup jauh di luar kota, saya jarang pulang ke kos. Jika ada urusan yang cukup penting, barulah saya ke kota. Kurang lebih sebulan bertugas, saya mendapat kabar kalau Bude Nar jatuh sakit dan harus opname. Saya cukup kaget. Karena tak banyak yang bisa kami lakukan, kami hanya mendo’akannya agar segera sembuh. Akhirnya selang beberapa hari, beliau sudah baikan dan di ijinkan pulang.

Seusai masa tugas, saya kembali ke kos. Bude Nar sempat bercerita tentang penyakit terakhir yang dideritanya. Saya mendapati perawakannya sudah berubah dari semenjak saya berangkat bertugas. Beliau tampak kurus dan tertatih-tatih. Mungkin karena penyakit yang dideritanya.

Empat bulan yang lalu, saya mendapat tugas kerja keluar daerah. Selama itu saya tidak mengetahui kabar beliau. Sampai sebulan yang lalu saya kembali pun, teman-teman kos hanya tahu kalau beliau dirawat dikampung halamannya, Magetan.

Tiga hari yang lalu, saat sedang mencuci sepeda motor. Sayup-sayup saya mendengar suara memanggil nama saya. Beberapa saat, saya kebingungan mencari asal suara. Sampai akhirnya saya mengetahui asal suara, yaitu dari dalam rumah. Saya memastikan itu suara Bude Nar. Beliau meminta saya masuk. 

Setelah mengucap salam, saya masuk ke dalam rumah. Saya kaget luar biasa mendapati Bude Nar terbaring lemah di atas kasur. Hanya wajah kurusnya yang tampak. Saya sempat tak percaya, kalau ternyata selama ini beliau dirawat di rumah. Sambil berbicara lirih, beliau meminta tolong saya untuk memanggilkan salah seorang tetangga rumah. 

Tadi malam, pukul 22.15 saat sedang berdiskusi dengan beberapa teman, saya mendapat sms dari salah satu rekan kos. “Inna lillah wa inna ilaiha raji’un… Bude Nar wafat, barusan jam 10”. Dalam hati saya mengucapkan tarji’. Selama beberapa saat, saya tercenung mendengar kabar duka ini. Tak menduga jika beliau pergi secepat ni. Tak menduga jika kemarin adalah permintaan tolong terakhir beliau.

Sepulang ke kos, saya langsung ikut sholat jenazah bersama rekan kos, keluarga dan tetangga yang lain. Setelah di sholatkan, kami turut menghantar jenazahnya ke mobil ambulans. Rencananya, beliau akan dimakamkan di Magetan.

Kembali ke pagi ini, saya mencoba merenung. Menyelami makna yang tersimpul dalam perjalanan waktu ini. Kematian selalu mengingatkan akan batas waktu hidup kita. Melewati berbagai tahapan dalam hidup kita, kala menghampiri orang-orang yang kita kenal. Sangat cepat. Tak terduga.

Bagaimana jika selanjutnya kita? Apa kenangan yang ingin ditinggalkan di memori orang-orang yang mengenal kita?

Mari bermanfaat tuk sesama.

Sabtu

Ketulusan Warga Jogja



Ada cerita menarik pagi ini, moga menginspirasi....

Seperti biasa, pagi hari saya berjalan-jalan di sekitar kosan. Walaupun secara administratif masuk dalam wilayah Pemerintah Kota, namun daerah tempat saya tinggal tidak begitu ramai seperti layaknya wilayah lain. Suasana kampung masih kental terasa. Setiap pagi masih banyak warga yang berjalan jalan untuk merenggangkan badan. Di pinggiran jalan, beberapa ibu-ibu menjajakan jajanan tradisional dan sarapan pagi. Bapak-bapak penjual soto juga tampak menikmati racikan masakannya. Dagangan mereka tak pernah sepi. Benar-benar nafas kehidupan penuh harmoni.

Setelah berlari-lari kecil memutari perkampungan, tak beberapa lama saya dikejutkan dengan suara keras. 

Brakkkk.....

Sebuah kecelakaan terjadi tak jauh di depanku. Seorang gadis muda tampak terkapar di jalan. Posisi kepala belakang membentur aspal. Beruntung, helm putih si gadis masih melekat kuat. Sehingga dapat meredam kerasnya energi yang menghantam. Saya tidak melihat persis kronologi kejadian. Karena kecelakan itu begitu cepat. Secepat laju kendaraan si gadis.

Serentak ibu-ibu dan bapak-bapak yang ada di sekitar lokasi langsung menghampiri gadis tersebut. Membopongnya ke pinggir jalan. Memberikan pertolongan pertama dan berusaha menenangkan kondisi. Si gadis tampak masih terkejut dengan kejadian yang menimpanya. Seorang bapak paruh baya segera membawakan air putih dari dalam rumahnya. Seorang ibu memastikan kondisi tubuh si gadis tidak terluka parah. Seorang bapak lainnya berusaha menegakkan tubuh si gadis dan melepas helm yang dikenakannya. Seorang ibu yang lebih muda mengusap-usap kening si gadis dan mengajaknya bicara. 

Tak lama, si gadis mulai tampak tenang. Bernafas pelan teratur. Dan mampu menjawab. Ia berterima kasih dan mengatakan dirinya tak apa-apa. Alhamdulillah..

Saya tertegun mengamati kejadian itu. Dalam hati saya mensyukuri dapat menyaksikan kejadian pagi ini. Saya bersyukur menjadi saksi kebaikan dan ketulusan dari bapak-bapak dan ibu-ibu tersebut. Kebaikan dan ketulusan yang mungkin mulai luntur di tempat lain. 

Yeah, Yogyakarta di balik pacu derap langkahnya, tetap tak meninggalkan jati dirinya. Selalu menawarkan senyum tulus bagi siapa pun yang menghampirinya.

Yogyakarta selalu berhati nyaman. Bagi siapapun. Semoga sampai kapanpun. 
Terimakasih, saya belajar sesuatu hari ini...

Senin

Mari Tertawa


Yuk, mari tertawa. 
Menertawakan tahun 2012 Masehi yang akan kita tinggalkan.
Menertawakan kehidupan dunia yang hanya sebentar kita singgahi.
Menertawakan ujian-ujian yang telah lalu, yang saat ini menghadang, dan esok yang siap menerjang.
Menertawakan kesedihan, kepedihan dan kesusahan.
Tuk menggapai kebahagiaan sejati.
Apa pun yang kau hadapi.
Dalam kondisi apa pun kau berada.
Selamat tertawa dan berbahagia selalu.

Pesan teruntuk sahabat, kawan, rekan, kakak, adik, orangtua, guru dan orang-orang yang menyapa kehidupan bersamaku.


Rabu

Hidup Untuk (Mempersiapkan) Mati



Pagi ini aku terbangun dari tidurku. Tak banyak yang ku lakukan. Hanya aktivitas yang biasa setiap harinya. Sholat subuh seperti biasa. Mengaji seperti biasa. Membaca buku seperti biasa. Mendengarkan lagu seperti biasa. Mandi seperti biasa. Ayam-ayam berkokok seperti biasa. Matahari pun terbit seperti biasa. Tak ada yang istimewa. Aktivitas yang sama setiap waktunya. 

Yang berbeda adalah, hari ini usiaku berkurang satu tahun. Tak terasa sebentar lagi, usiaku akan mencapai seperempat abad. Ah, mengapa semua terasa cepat?  Aku masih ingat, ketika pertama kali belajar menggunakan sepeda dibantu Ayahku. Aku masih ingat, ketika mendaftar di bangku Sekolah Dasar bersama Ibuku. Aku masih ingat, ketika pertama kalinya dalam hidup meninggalkan kampung halaman, untuk belajar di sebuah Pondok nun jauh di rantauan. Aku masih ingat, ketika mendaftar masuk kuliah di kota Apel. Namun akhirnya tak berhasil ku selesaikan. Dan aku pun masih ingat, ketika kembali mencoba peruntungan untuk belajar di kota pelajar. Semuanya aku ingat dengan sangat jelas.

Tapi ada satu hal yang hingga kini belum mampu ku ingat dengan jelas. Aku masih belum bisa mengingat, apa tujuanku terlahir ke dunia ini? Aku masih belum bisa mengingat, atas dasar alasan apa aku bisa tumbuh dan besar hingga kini? Aku masih belum bisa mengingat, atas pertimbangan apa aku dapat melewati setiap tahap dalam hidup yang aku masih ingat dengan jelas? Aku benar-benar tak mampu mengingatnya.

Aku bertanya pada banyak orang yang ku temui. Untuk alasan apa kamu hidup? Untuk alasan apa anda hidup? Untuk alasan apa saudara hidup? Untuk alasan apa Bapak hidup? Untuk  alasan apa Ibu hidup? Dan ku temukan bepuluh-puluh jawaban.

Kata mereka, hidup untuk mencari kekayaan. Hidup untuk mencari kejayaan. Hidup untuk mencari ketenaran. Hidup untuk mencari kedudukan. Hidup untuk mencari kekuasaan. Hidup untuk memenuhi keinginan. Hidup untuk kepuasan, nafsu duniawi ataupun nikmat surgawi. Yeah, entahlah. Apakah mereka itu sudah benar – benar menemukan jawaban untuk pertanyaanku. Atau mungkin jawaban-jawaban itu, hanya untuk menutupi ketidaktahuan mereka akan pertanyaanku. Entahlah… 

Samar-samar aku teringat suatu hari saat masih duduk di bangku sekolah dasar. Ayah menjemputku secara tiba-tiba. Membawa kabar yang tak pernah ku duga. Kakekku tercinta telah pergi ke pangkuan Sang Kuasa. Innalillah wa inna ilaihi raji’un. 

Namun, bayangan yang muncul saat ini bukanlah kesedihanku kala itu. Bayangan yang muncul saat ini adalah ketakjubanku kala melihat penuh sesaknya pelayat yang datang. Dari tenda didirikan hingga kakek dihantar ke peristirahatan terakhirnya. Mungkin ada sekitar seribu orang hadir hari itu. Dalam hati aku bertanya, apa yang membuat kakek begitu istimewa bagi mereka?

Kakek memang dikenal sebagai sebagai Tuan Guru atau Kyai di daerahku. Beliau punya murid banyak. Dari petani hingga gubernur. Dari remaja hingga orang tua. Perempuan dan laki-laki, silih berganti datang ke rumah untuk belajar mengaji. Beliau tak pelit ilmu. Bahkan membuka majelis untuk mereka yang haus akan ilmu.  Kakek juga dikenal pandai menjaga silaturahmi. Berkeliling ke rumah tetangga-tetangga, teman-teman, murid-murid dan guru-guru adalah aktivitas yang sering beliau lakoni.

Sesaat kemudian, tampak benang merah dari lamunanku. Samar-samar ku terngiang bait-baik kecil sebuah syair Arab. Syair yang dulu guruku senang membacakannya.

Waladatka ummuka yabna adama bakiyan
Wannaasu haulaka yadhhakuuna suruura
fajhad linafsika an takuuna idza bakau
liyaumi mautika dhahikan masruura

- - -

Wahai anak adam, 
Engkau dilahirkan dalam keadaan menangis oleh ibumu
Dan manusia di sekitarmu tertawa bahagia menyambutmu
Berbuatlah kebajikan, agar saat kematian menjemputmu
Manusia di sekitarmu menangis menghantarkanmu
Dan engkau pergi dengan gembira penuh haru

- - -

Aku tersadar, sesungguhnya kakeku telah siap menyambut panggilan Sang Pencipta. Beliau dengan sangat baik menyiapkan kematiannya. Beliau menyiapkan kematian yang mulia. 

Kematian adalah sesuatu yang membuat bulu kuduk berdiri. Tapi dalam hidup, menjadi satu-satunya hal yang pasti terjadi. Aku pun takut mati. Tapi tak mungkin kuhindari. Satu-satunya hal yang bisa kulakukan adalah menyiapkan diri. Agar aku tak sendiri saat mati. Aku harus berusaha agar saat Izrail datang, orang-orang sukarela datang menghampiri. Menghantarkan tubuh ini, kembali ke peristirahatannya yang abadi.

Dan kini aku mampu mengingat, apa tujuanku terlahir ke dunia ini. Aku lahir lalu hidup untuk mempersiapkan mati. (Mufid)


Kamis

Selamat Ulang Tahun Indonesia Ku


Selalu ada optimisme bagi bangsa ini untuk jadi besar. Kita lah yang akan mewujudkannya. Selamat ulang tahun bangsaku, selamat berulang usia negeriku. Bersatulah selamanya :)

Rabu

Quote of the Day

Kunci kepemimpinan yang sukses adalah pengaruh, bukan kekuasaan. Layani orang2 anda,dan bantu mereka untuk menang. 


- Kenneth H. Blanchard -
Penulis buku One Minute Manager

Selasa

Semangat Pagi!

Tetes embun jatuh di ujung daun. 
Putihnya kabut menyelimuti senyum sang Mentari. 
Tebarkan senyum cinta untuk awali hari yang lebih baik, lebih indah dan lebih sempurna. 
Ayo sobat, buka mata dan sambut indahnya pagi ini dengan senyumanmu. :)

Minggu

Quote of The Day



Kamu yang sekarang akan sama 
seperti kamu yang lima tahun mendatang. 

Kecuali hanya 2 hal:
Orang-orang yang kamu temui 
dan buku-buku yang kamu baca.

Charles "Tremendus" Jones
Presiden Direktur Life Management Services, Inc.
Charlie adalah penulis dan pembicara terkenal di Amerika


Tetaplah Lapar, Tetaplah Bodoh


Tetaplah merasa lapar, tetaplah merasa bodoh. Petikan pidato yang menggugah dari Steve Jobs. Yeah, saya mengambil banyak hal dari apa-apa yang dia perbuat selama hidupnya.
Ini pidato lengkap Steve di Stanford University. Moga bisa menjadi penyemangat kita.



You've got to find what you love

I am honored to be with you today at your commencement from one of the finest universities in the world. I never graduated from college. Truth be told, this is the closest I've ever gotten to a college graduation. Today I want to tell you three stories from my life. That's it. No big deal. Just three stories.

The first story is about connecting the dots.

I dropped out of Reed College after the first 6 months, but then stayed around as a drop-in for another 18 months or so before I really quit. So why did I drop out?

It started before I was born. My biological mother was a young, unwed college graduate student, and she decided to put me up for adoption. She felt very strongly that I should be adopted by college graduates, so everything was all set for me to be adopted at birth by a lawyer and his wife. Except that when I popped out they decided at the last minute that they really wanted a girl. So my parents, who were on a waiting list, got a call in the middle of the night asking: "We have an unexpected baby boy; do you want him?" They said: "Of course." My biological mother later found out that my mother had never graduated from college and that my father had never graduated from high school. She refused to sign the final adoption papers. She only relented a few months later when my parents promised that I would someday go to college.

And 17 years later I did go to college. But I naively chose a college that was almost as expensive as Stanford, and all of my working-class parents' savings were being spent on my college tuition. After six months, I couldn't see the value in it. I had no idea what I wanted to do with my life and no idea how college was going to help me figure it out. And here I was spending all of the money my parents had saved their entire life. So I decided to drop out and trust that it would all work out OK. It was pretty scary at the time, but looking back it was one of the best decisions I ever made. The minute I dropped out I could stop taking the required classes that didn't interest me, and begin dropping in on the ones that looked interesting.

It wasn't all romantic. I didn't have a dorm room, so I slept on the floor in friends' rooms, I returned coke bottles for the 5¢ deposits to buy food in friends' rooms, I returned coke bottles for the 5¢ deposits to buy food with, and I would walk the 7 miles across town every Sunday night to get one good meal a week at the Hare Krishna temple. I loved it. And much of what I stumbled into by following my curiosity and intuition turned out to be priceless later on. Let me give you one example:

Reed College at that time offered perhaps the best calligraphy instruction in the country. Throughout the campus every poster, every label on every drawer, was beautifully hand calligraphed. Because I had dropped out and didn't have to take the normal classes, I decided to take a calligraphy class to learn how to do this. I learned about serif and san serif typefaces, about varying the amount of space between different letter combinations, about what makes great typography great. It was beautiful, historical, artistically subtle in a way that science can't capture, and I found it fascinating.

Foto oleh Diana Walker di ambil dari sini

None of this had even a hope of any practical application in my life. But ten years later, when we were designing the first Macintosh computer, it all came back to me. And we designed it all into the Mac. It was the first computer with beautiful typography. If I had never dropped in on that single course in college, the Mac would have never had multiple typefaces or proportionally spaced fonts. And since Windows just copied the Mac, its likely that no personal computer would have them. If I had never dropped out, I would have never dropped in on this calligraphy class, and personal computers might not have the wonderful typography that they do. Of course it was impossible to connect the dots looking forward when I was in college. But it was very, very clear looking backwards ten years later.

Again, you can't connect the dots looking forward; you can only connect them looking backwards. So you have to trust that the dots will somehow connect in your future. You have to trust in something - your gut, destiny, life, karma, whatever. This approach has never let me down, and it has made all the difference in my life.

My second story is about love and loss.

I was lucky - I found what I loved to do early in life. Woz and I started Apple in my parents garage when I was 20. We worked hard, and in 10 years Apple had grown from just the two of us in a garage into a $2 billion company with over 4000 employees. We had just released our finest creation - the Macintosh - a year earlier, and I had just turned 30. And then I got fired. How can you get fired from a company you started? Well, as Apple grew we hired someone who I thought was very talented to run the company with me, and for the first year or so things went well. But then our visions of the future began to diverge and eventually we had a falling out. When we did, our Board of Directors sided with him. So at 30 I was out. And very publicly out. What had been the focus of my entire adult life was gone, and it was devastating.

I really didn't know what to do for a few months. I felt that I had let the previous generation of entrepreneurs down - that I had dropped the baton as it was being passed to me. I met with David Packard and Bob Noyce and tried to apologize for screwing up so badly. I was a very public failure, and I even thought about running away from the valley. But something slowly began to dawn on me - I still loved what I did. The turn of events at Apple had not changed that one bit. I had been rejected, but I was still in love. And so I decided to start over.

I didn't see it then, but it turned out that getting fired from Apple was the best thing that could have ever happened to me. The heaviness of being successful was replaced by the lightness of being a beginner again, less sure about everything. It freed me to enter one of the most creative periods of my life.

During the next five years, I started a company named NeXT, another company named Pixar, and fell in love with an amazing woman who would become my wife. Pixar went on to create the worlds first computer animated feature film, Toy Story, and is now the most successful animation studio in the world. In a remarkable turn of events, Apple bought NeXT, I retuned to Apple, and the technology we developed at NeXT is at the heart of Apple's current renaissance. And Laurene and I have a wonderful family together.

Foto oleh Diana Walker di ambil dari sini 


I'm pretty sure none of this would have happened if I hadn't been fired from Apple. It was awful tasting medicine, but I guess the patient needed it. Sometimes life hits you in the head with a brick. Don't lose faith. I'm convinced that the only thing that kept me going was that I loved what I did. You've got to find what you love. And that is as true for your work as it is for your lovers. Your work is going to fill a large part of your life, and the only way to be truly satisfied is to do what you believe is great work. And the only way to do great work is to love what you do. If you haven't found it yet, keep looking. Don't settle. As with all matters of the heart, you'll know when you find it. And, like any great relationship, it just gets better and better as the years roll on. So keep looking until you find it. Don't settle.

My third story is about death.

When I was 17, I read a quote that went something like: "If you live each day as if it was your last, someday you'll most certainly be right." It made an impression on me, and since then, for the past 33 years, I have looked in the mirror every morning and asked myself: "If today were the last day of my life, would I want to do what I am about to do today?" And whenever the answer has been "No" for too many days in a row, I know I need to change something.

Remembering that I'll be dead soon is the most important tool I've ever encountered to help me make the big choices in life. Because almost everything - all external expectations, all pride, all fear of embarrassment or failure - these things just fall away in the face of death, leaving only what is truly important. Remembering that you are going to die is the best way I know to avoid the trap of thinking you have something to lose. You are already naked. There is no reason not to follow your heart.

About a year ago I was diagnosed with cancer. I had a scan at 7:30 in the morning, and it clearly showed a tumor on my pancreas. I didn't even know what a pancreas was. The doctors told me this was almost certainly a type of cancer that is incurable, and that I should expect to live no longer than three to six months. My doctor advised me to go home and get my affairs in order, which is doctor's code for prepare to die. It means to try to tell your kids everything you thought you'd have the next 10 years to tell them in just a few months. It means to make sure everything is buttoned up so that it will be as easy as possible for your family. It means to say your goodbyes.

I lived with that diagnosis all day. Later that evening I had a biopsy, where they stuck an endoscope down my throat, through my stomach and into my intestines, put a needle into my pancreas and got a few cells from the tumor. I was sedated, but my wife, who was there, told me that when they viewed the cells under a microscope the doctors started crying because it turned out to be a very rare form of pancreatic cancer that is curable with surgery. I had the surgery and I'm fine now.

This was the closest I've been to facing death, and I hope its the closest I get for a few more decades. Having lived through it, I can now say this to you with a bit more certainty than when death was a useful but purely intellectual concept:

No one wants to die. Even people who want to go to heaven don't want to die to get there. And yet death is the destination we all share. No one has ever escaped it. And that is as it should be, because Death is very likely the single best invention of Life. It is Life's change agent. It clears out the old to make way for the new. Right now the new is you, but someday not too long from now, you will gradually become the old and be cleared away. Sorry to be so dramatic, but it is quite true.

Your time is limited, so don't waste it living someone else's life. Don't be trapped by dogma - which is living with the results of other people's thinking. Don't let the noise of other's opinions drown out your own inner voice. And most important, have the courage to follow your heart and intuition. They somehow already know what you truly want to become. Everything else is secondary.

When I was young, there was an amazing publication called The Whole Earth Catalog, which was one of the bibles of my generation. It was created by a fellow named Stewart Brand not far from here in Menlo Park, and he brought it to life with his poetic touch. This was in the late 1960's, before personal computers and desktop publishing, so it was all made with typewriters, scissors, and polaroid cameras. It was sort of like Google in paperback form, 35 years before Google came along: it was idealistic, and overflowing with neat tools and great notions.

Stewart and his team put out several issues of The Whole Earth Catalog, and then when it had run its course, they put out a final issue. It was the mid-1970s, and I was your age. On the back cover of their final issue was a photograph of an early morning country road, the kind you might find yourself hitchhiking on if you were so adventurous. Beneath it were the words: "Stay Hungry. Stay Foolish." It was their farewell message as they signed off. Stay Hungry. Stay Foolish. And I have always wished that for myself. And now, as you graduate to begin anew, I wish that for you.

Stay Hungry. Stay Foolish.

Thank you all very much.

Steve Jobs, CEO of Apple Computer and of Pixar Animation Studios, delivered on June 12, 2005

----

Senin

Menjadi Yang Terbaik

Menjadi yang terbaik adalah pilihan.

Ketika orang merampas, kau membagi.
Itulah peliknya.

Ketika orang menikmati, kau menciptakan.
Itulah rumitnya.

Ketika orang mengadu, kau bertanggung jawab.
Itulah repotnya.

Oleh karena itu, tidak banyak orang yang bersamamu disini,
untuk mendirikan imperium kebenaran.

Menjadi pahlawan sejati di dunia dan di akhiratmu.
Keep Istiqamah!

[Titik Buta dari sahabat]

Minggu

Ibu

Artikel ne dikirim teman saya lewat FB.
Saya share aja, moga bermanfaat!

siapkan sapu tangan Anda sebelum tumpah Air Mata

Aku Lahir dari Perut Ibu…(Bukan kata orang...memang betul KAN....??)

Bila dahaga, yang susukan aku....ibu
Bila lapar, yang menyuapi aku....ibu
Bila sendirian, yang selalu di sampingku.. ..ibu
Kata ibu, perkataan pertama yang aku sebut....Ibu
Bila bangun tidur, aku cari.....ibu
Bila nangis, orang pertama yang datang ....ibu
Bila ingin bermanja, aku dekati....ibu
Bila ingin bersandar, aku duduk sebelah....ibu
Bila sedih, yang dapat menghiburku hanya....ibu
Bila nakal, yang memarahi aku....ibu
Bila merajuk, yang membujukku cuma.....ibu
Bila melakukan kesalahan, yang paling cepat marah....ibu
Bila takut, yang menenangkan aku....ibu
Bila ingin peluk, yang aku suka peluk....ibu
Aku selalu teringatkan ....ibu
Bila sedih, aku mesti telepon....ibu
Bila senang, orang pertama aku ingin beritahu.... .ibu
Bila marah.. aku suka meluahkannya pada..ibu
Bila takut, aku selalu panggil... "ibuuuuu! "
Bila sakit, orang paling risau adalah....ibu
Bila aku ingin bepergian, orang paling sibuk juga.....ibu
Bila buat masalah, yang lebih dulu memarahi aku....ibu
Bila aku ada masalah, yang paling risau.... ibu
Yang masih peluk dan cium aku sampai hari ni.. ibu
Yang selalu masak makanan kegemaranku. ...ibu
Kalau pulang ke kampung, yang selalu member bekal.....ibu
Yang selalu menyimpan dan merapihkan barang-barang aku....ibu
Yang selalu berkirim surat dengan aku...ibu
Yang selalu memuji aku....ibu
Yang selalu menasihati aku....ibu
Bila ingin menikah..Orang pertama aku datangi dan minta persetujuan.....ibu

namun setelah aku punya pasangan……………..
>>> Bila senang, aku cari....pasanganku
>>> Bila sedih, aku cari.....ibu
>>> Bila mendapat keberhasilan, aku ceritakan pada....pasanganku
>>> Bila gagal, aku ceritakan pada....ibu
>>> Bila bahagia, aku peluk erat....pasanganku
>>> Bila berduka, aku peluk erat....ibuku
>>> Bila ingin berlibur, aku bawa.....pasanganku
>>> Bila sibuk, aku antar anak ke rumah....ibu
>>> Bila sambut valentine.. Aku beri hadiah pada pasanganku
>>> Bila sambut hari ibu...aku cuma dapat ucapkan "Selamat Hari Ibu"
>>> Selalu... aku ingat pasanganku
>>> Selalu... ibu ingat aku
>>> Setiap saat... aku akan telepon pasanganku
>>> Entah kapan... aku ingin telepon ibu
>>> Selalu...aku belikan hadiah untuk pasanganku
>>> Entah kapan... aku ingin belikan hadiah untuk ibu

>>> Renungkan:
"Kalau kau sudah selesai belajar dan berkerja... masih ingatkah kau pada ibu?
Tidak banyak yang ibu inginkan... hanya dengan menyapa ibupun cukuplah".
>>> Berderai air mata jika kita mendengarnya........
>>> Tapi kalau ibu sudah tiada..........
>>> IBUUUU...RINDU IBU.... RINDU SEKALI....
>>> Berapa banyak yang sanggup menyuapi ibunya....
>>> Berapa banyak yang sanggup mencuci muntah ibunya.....
>>> Berapa banyak yang sanggup menggantikan alas tidur ibunya......
>>> Berapa banyak yang sanggup membersihkan najis ibunya...... .
>>> Berapa banyak yang sanggup membuang belatung dan membersihkan luka kudis ibunya....
>>> Berapa banyak yang sanggup berhenti kerja untuk menjaga ibunya.....
>>> Berapa banyak yang sanggup meluangkan waktu untuk menjaga ibunya yang telah renta…..

Seorang anak menemui ibunya yang sedang sibuk menyediakan makan malam di
dapur lalu menghulurkan selembar kertas yang bertuliskan sesuatu. Si ibu
segera melap tangannya dan menyambut kertas yang dihulurkan oleh si anak
lalu membacanya. Upah membantu ibu:
>>> 1) Membantu pergi belanja : Rp 10.000,-
>>> 2) Membantu jaga adik : Rp 10.000,-
>>> 3) Membantu buang sampah : Rp 10.000,-
>>> 4) Membantu membereskan tempat tidur : Rp 10.000,-
>>> 5) Membantu siram bunga : Rp 5.000,-
>>> 6) Membantu sapu sampah : Rp 5.000,-
>>> Jumlah : Rp 40.000,-
>>> Selesai membaca, si ibu tersenyum memandang si anak , kemudian si ibu mengambil pensil dan menulis sesuatu di belakang kertas yang sama.
>>> 1) Biaya mengandung selama 9 bulan - GRATIS
>>> 2) Biaya tidak tidur karena menjagamu - GRATIS
>>> 3) Biaya air mata yang menitik karenamu - GRATIS
>>> 4) Biaya gelisah karena mengkhawatirkanmu - GRATIS
>>> 5) Biaya menyediakan makan, minum, pakaian, dan keperluanmu -GRATIS
>>> Jumlah Keseluruhan Nilai Kasihku - GRATIS
>>> Air mata si anak berlinang setelah membaca apa yang dituliskan oleh
>>> si ibu. Si anak menatap wajah ibu,memeluknya dan berkata,
>>> "Saya Sayang Ibu". Kemudian si anak mengambil pensil dan menulis "Telah
>>> Dibayar Lunas Oleh Ibu" ditulisnya pada muka surat yang sama.