Tampilkan postingan dengan label Sepotong Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sepotong Cerita. Tampilkan semua postingan

Selasa

Mangrove Planting Project



Hari Ahad (19/01) kemarin, kami melakukan kegiatan peduli lingkungan "YOT Mangrove Planting Project" di Delta Baros, Pantai Samas, Bantul, Yogyakarta dalam rangka memperingati Hari Satu Juta Pohon. Kami mengajak masyarakat untuk melakukan aksi penanaman bibit pohon bakau dan berbagi pengetahuan tentang pentingnya peran pohon bakau bagi daerah pesisir pantai. 

Kami melibatkan lebih dari 100 anak muda Yogyakarta yang tergabung dalam berbagai komunitas sosial dan lingkungan untuk ikut terjun menanam pohon Bakau. Komunitas-komunitas anak muda yang berpartisipasi diantaranya LMen Yogyakarta, HiLo Yogyakarta, Code Pintar Yogyakarta, Kopi Liar Indonesia, Jogja Berkebun, Kaki Gunung Merapi (KAGEM), Forum Masyarakat Mahasiswa Peduli Lingkungan (FM2PL), Mahasiswa Pecinta Alam UPN “Veteran” Yogyakarta, Green Technology Yogyakarta, Himpunan Mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar UNY, KEMANGTEER, Gerakan Fajar Nusantara (GAFATAR) Yogyakarta, Mangrove Instiper Club (MIC) Instiper Yogyakarta, Accounting Study Club (ASC) Yogyakarta, Pramuka SMP Bantul dan Fruit Talk Yogyakarta.

Kami berharap, aksi penanaman bibit pohon Bakau ini dapat memberikan kontribusi secara nyata kepada masyarakat setempat. Setelah ditanam, bibit bakau akan dirawat dan dipantau pertumbuhannya oleh masyarakat. Melalui kegiatan ini, kami berkeinginan penananaman pohon Bakau di daerah Delta Baros, pantai Samas, Bantul, Yogyakarta ini dapat mencegah dampak abrasi dari gelombang air laut pantai selatan.

Terimakasih kepada rekan-rekan komunitas dan media yang telah berpartisipasi dalam kegiatan ini.
Salam.

_________________________

YOT Yogyakarta is a youth platform to create strong and positive communities nationwide by giving inspirations. We connect youth communities with actions and collaborations to make a powerful impact for youth and societies, for their brighter future.


YOT Walk Memperingati Hari AIDS Se-Dunia
















Memperingati hari AIDS se-dunia yang jatuh tepat pada tanggal 1 Desember 2013, Young On Top Yogyakarta mengadakan #YOTWalk bertemakan "Jalan Sehat dan Bersih Jalan."

#YOTWalk diadakan di sepanjang Jalan Malioboro Yogyakarta, dimulai dari depan Hotel Ina Garuda dan finish sampai titik 0 km Yogyakarta. 

Young On Top Yogyakarta, dalam #YOTWalk ini, juga mengajak YOTers, anak-anak muda Yogyakarta, dan komunitas-komunitas yang concern di bidang lingkungan dan kesehatan, diantaranya Earth Hour Jogjakarta, HiLo Yogyakarta, Green Technology, L-Men Yogyakarta, Jogja Berkebun, Yayasan KAGEM, dan masih banyak lagi yang lain.

Young On Top Yogyakarta mengucapkan terima kasih dan memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh YOTers yang terlibat, para media partner dan instansi pemerintah, teman-teman komunitas, yang semuanya telah ikut membantu mensukseskan kegiatan ini. Mari terus jaga kontak, jaga semangat, untuk kolaborasi dan beraksi!

Project #YOTWalk ini didukung oleh Badan Lingkungan Hidup Provinsi DI Yogyakarta, Hotel Inna Garuda, Kedaulatan Rakyat, Tribun Jogja, Jogja TV, Adi TV, Jogjaku, dan Jogja Wisata

See you on TOP!

Kamis

Capai Mimpi di Usia Muda

Bareng Young On Top Yogyakarta



Siapa sih yang tidak ingin mencapai mimpinya di usia muda? Tentu semua ingin. Lalu apa yang harus dilakukan? Kita perlu belajar dari teman-teman Young On Top Yogyakarta.

Young On Top (YOT) adalah komunitas anak muda yang ingin belajar dan berbagi. Komunitas ini terbentuk dari sebuah buku yang ditulis oleh Billy Boen berjudul Young On Top. Billy Boen adalah entrepreneur muda yang pernah menjabat sebagai General Manager Oakley di usia 26 tahun. Buku YOT merupakan pembahasan pemikiran, etika, serta karakter yang menginspirasi anak muda Indonesia agar bisa sukses di usia belia. "Kalau bisa sukses di usia muda, kenapa mesti nunggu tua?" adalah pesan yang dibawa buku berciri khas warna kuning hitam ini.

Virus positif Buku YOT lalu mulai menyebar ke seluruh daerah di Indonesia. Komunitas YOTers, panggilan akrab anggota YOT, terbentuk di berbagai kota, termasuk Yogyakarta. Komunitas YOT Yogyakarta yang  berdiri sejak tahun 2012 ini mengajak anak-anak muda Jogja, untuk saling belajar dan berbagi melalui berbagai diskusi dan kegiatan positif. “Kita ingin menjadi bagian dari anak-anak muda yang bisa berprestasi dan menginspirasi orang di sekitarnya. Menjadi bagian dari stronger generation for Indonesia,” tutur Enggar Pradityo, inisiator YOT Yogyakarta.

Tiap bulannya YOT Yogyakarta rutin mengadakan YOT Gathering, sebagai ruang untuk saling belajar dan berbagi antar YOTers. YOTers bisa bertukar pengetahuan baru yang didapatnya dari pengalaman sehari-hari.
YOT Gathering juga menghadirkan inspirator-inspirator yang punya prestasi di bidangnya, seperti Billy Boen (founder Young On Top), Bunga Mega  (founder komunitas @cewequat), Andita Dhanasti Asry (YOT Campus Ambassador) dan Sirly W Nasir (Chairwoman PERHUMAS Muda). 

Pada tahun 2013, YOT Yogyakarta mengadakan YOT Motivation ke Panti Asuhan An-Nur di daerah Bantul, Yogyakarta. Melalui YOT Motivation ini, YOTers mengajak adik-adik yatim An-Nur agar berani bermimpi besar. Melalui media interaktif dan sederhana, YOTers berbagi pengalaman dan value Young On Top, agar adik-adik yatim termotivasi untuk berprestasi sejak dini.

 “Agar sukses di usia muda, kita harus banyak belajar. Tapi yang terpenting, jangan lupa berbagi sebanyak mungkin. Learn and share adalah semangat kami,” pungkas Enggar.

Nah, ingin tahu update aktivitas YOTers Jogja selanjutnya? Follow twitter mereka @YOT_Yogyakarta atau gabung di www.youngontop.com. Terus belajar dan terus bagikan inspirasimu. See you on TOP!

Jumat

Wanita Pejuang Kemanusiaan


Tergetar hati melihat tayangan Kick Andy malam ini yang berjudul THE WARRIOR PRINCESS. Betapa mereka adalah wanita-wanita hebat. Wanita-wanita berhati baja nan besar. Mereka rela memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan yang mereka yakini. 

Mereka bukan wanita yang hanya duduk di rumah. Mereka bukan wanita yang bergosip dengan tetangga. Mereka bukan wanita yang hanya menghabiskan waktu berkaraoke atau berbelanja. 

Mereka berkontribusi, memperjuangkan sebuah nilai. Nilai -nilai yang terkadang kita kesampingkan. Kita yang belum melakukan apa-apa dalam hidup, patut belajar dari wanita-wanita ini. Agar hidup menjadi bermakna. Karena hidup bukan semata pencapaian angka-angka.

Mari berfikir, mari belajar.

Bagaimana pendapatmu?

Minggu

Mahasiswa Bicara!




Seperti halnya perokok, semua perokok tau bahwa merokok itu berbahaya bagi kesehatan dan merugikannya secara ekonomi. Tapi tak pernah mudah bagi perokok untuk menghentikan kebiasannya itu. Maka, jika sebuah negara ingin mengurangi jumlah perokok, bukanlah dengan cara menyuruh perokok berhenti dengan menakut-nakutinya, atau membatasi hak perokok untuk merokok sementara penjual dan industri rokok dibiarkan begitu saja. Jika ingin mengurangi jumlah perokok, hal yang paling ekstrem (jika berani) adalah dengan melarang industri dan juga peredaran rokok. Tetapi yang paling bijak adalah, dengan mencegah perokok-perokok baru (yang nantinya akan sulit berhenti merokok). Lakukan edukasi terhadap para pemuda yang sering memulai ‘belajar’ merokok karena alasan-alasan yang remeh-temeh, gengsi, misalnya. Perketat larangan penjualan rokok pada anak di bawah umur. Atau, upaya-upaya lain yang preventif, bukan mengurusi yang sudah terlajur jadi perokok.

Nah, ibarat persoalan rokok, memberesi mental jurnalis untuk melahirkan generasi jurnalis dan jurnalisme yang berkualitas, akan sulit dilakukan pada para jurnalis yang sudah dikotori oleh berbagai tekanan dan kepentingan seperti yang sudah dibahas di atas. Untuk melahirkan generasi jurnalis yang baik, akan lebih efektif jika dilakukan dengan menanamkan nilai-nilai jurnalisme yang ideal itu di kalangan generasi baru, baik yang sudah menjadi jurnalis, maupun yang baru berstatus calon atau bercita-cita menjadi jurnalis.

Pers kampus - yang dikelola oleh mahasiswa atau pelajar -  adalah generasi emas. Mereka adalah generasi pers yang masih polos atau bersih. Mereka masih cenderung bebas dari kepentingan. Mereka masih cenderung bebas dari tekanan. Mereka harus dijaga agar tetap seperti itu, ketika suatu saat mereka terjun ke dalam dunia jurnalistik yang nyata. Berilah mereka imunisasi agar kebal dari infiltasi kepentringan, juga kekuatan untuk menghadapi tekanan, dan kukuh dalam idealisme jurnalisme yang sesungguhnya.

Tulisan-tulisan dalam buku ini adalah hasil dari upaya untuk belajar menjadi generasi pers yang bebas dari kepentingan dan tekanan. Tidak perlu rasanya memperdebatkan atau menggugat hasil yang tertampak –yang mungkin masih banyak kekurangan di sana-sini, terutama dalam hal teknis. Karya-karya ini bukan hasil akhir, tapi proses. Proses untuk menjadi jurnalis yang peka terhadap persoalan di sekitarnya, jurnalis yang bebas menyuarakan kata hatinya, jurnalis yang bebas dari kepentingan, jurnalis yang memegang teguh idealismenya, taat pada rambu dan etika jurnalisme, dan proses untuk menjadi jurnalis yang membawa manfaat bagi khalayaknya. 

Buku ini diterbitkan atas kerjasama:
Program Studi Ilmu Komunikasi Uin Sunan Kalijaga Jogja
Komunitas Rumah Inspirasi Idekata
dan Penerbit Galuh Patria

Informasi Pemesanan:
Amin [0818 0391 2005 ] 

galuhpatriapublishing@gmail.com

Jumat

Cepatnya Sebuah Kematian


Ada cerita, moga berguna....

Seusai dhuha pagi ini, ingatan saya melayang jauh ke masa-masa awal kuliah dan berpindah kos. Tersebutlah seorang wanita paruh baya berperawakan gemuk. Saya memanggilnya Bude Nar. Beliau adalah kakak dari Pak Gun, pemilik kos yang saya tinggali sejak awal kuliah. Kami para anak-anak kos mengenalnya cukup dekat. Dari seluruh anggota keluarga Pak Gun, beliau lah yang paling dekat. Karena beliau yang lebih sering mengurusi administrasi kos-kosn. 

Bude Nar cukup disiplin mengenai kebersihan kos kami. Jika plastik sampah mulai penuh, beliau akan mengingatkan agar kami segera membuangnya. Jika mengecek kamar mandi dan menemukan bekas sachet sampoo yang tidak di buang di tempat sampah, beliau langsung memperingatkan teman-teman kos yang di temuinya. Jika kamar mandi mulai kotor, beliau langsung mengingatkan penghuni kos untuk membersihkan. Selang sehari, biasanya kami pun langsung melakukan operasi eksekusi sesuai komando dengan personil penuh. Dan setelahnya, teh panas dan gorengan selalu tersedia di meja tamu, siap tuk kami santap.

Saya pribadi juga mengenalnya cukup dekat. Saya sering diminta tolong berbagai hal. Karena mungkin usia Bude Nar sudah menginjak lanjut, beliau agak kurang akrab dengan berbagai gadget yang dimilikinya. Jika ada trouble, saya sering dipanggil untuk mengutak-atik. Beliau juga sering bercerita tentang penyakit yang dideritanya setiap selesai check up.

***

Enam bulan yang lalu, saya mendapat tugas pengabdian masyarakat. Karena tinggal cukup jauh di luar kota, saya jarang pulang ke kos. Jika ada urusan yang cukup penting, barulah saya ke kota. Kurang lebih sebulan bertugas, saya mendapat kabar kalau Bude Nar jatuh sakit dan harus opname. Saya cukup kaget. Karena tak banyak yang bisa kami lakukan, kami hanya mendo’akannya agar segera sembuh. Akhirnya selang beberapa hari, beliau sudah baikan dan di ijinkan pulang.

Seusai masa tugas, saya kembali ke kos. Bude Nar sempat bercerita tentang penyakit terakhir yang dideritanya. Saya mendapati perawakannya sudah berubah dari semenjak saya berangkat bertugas. Beliau tampak kurus dan tertatih-tatih. Mungkin karena penyakit yang dideritanya.

Empat bulan yang lalu, saya mendapat tugas kerja keluar daerah. Selama itu saya tidak mengetahui kabar beliau. Sampai sebulan yang lalu saya kembali pun, teman-teman kos hanya tahu kalau beliau dirawat dikampung halamannya, Magetan.

Tiga hari yang lalu, saat sedang mencuci sepeda motor. Sayup-sayup saya mendengar suara memanggil nama saya. Beberapa saat, saya kebingungan mencari asal suara. Sampai akhirnya saya mengetahui asal suara, yaitu dari dalam rumah. Saya memastikan itu suara Bude Nar. Beliau meminta saya masuk. 

Setelah mengucap salam, saya masuk ke dalam rumah. Saya kaget luar biasa mendapati Bude Nar terbaring lemah di atas kasur. Hanya wajah kurusnya yang tampak. Saya sempat tak percaya, kalau ternyata selama ini beliau dirawat di rumah. Sambil berbicara lirih, beliau meminta tolong saya untuk memanggilkan salah seorang tetangga rumah. 

Tadi malam, pukul 22.15 saat sedang berdiskusi dengan beberapa teman, saya mendapat sms dari salah satu rekan kos. “Inna lillah wa inna ilaiha raji’un… Bude Nar wafat, barusan jam 10”. Dalam hati saya mengucapkan tarji’. Selama beberapa saat, saya tercenung mendengar kabar duka ini. Tak menduga jika beliau pergi secepat ni. Tak menduga jika kemarin adalah permintaan tolong terakhir beliau.

Sepulang ke kos, saya langsung ikut sholat jenazah bersama rekan kos, keluarga dan tetangga yang lain. Setelah di sholatkan, kami turut menghantar jenazahnya ke mobil ambulans. Rencananya, beliau akan dimakamkan di Magetan.

Kembali ke pagi ini, saya mencoba merenung. Menyelami makna yang tersimpul dalam perjalanan waktu ini. Kematian selalu mengingatkan akan batas waktu hidup kita. Melewati berbagai tahapan dalam hidup kita, kala menghampiri orang-orang yang kita kenal. Sangat cepat. Tak terduga.

Bagaimana jika selanjutnya kita? Apa kenangan yang ingin ditinggalkan di memori orang-orang yang mengenal kita?

Mari bermanfaat tuk sesama.

Sabtu

Ketulusan Warga Jogja



Ada cerita menarik pagi ini, moga menginspirasi....

Seperti biasa, pagi hari saya berjalan-jalan di sekitar kosan. Walaupun secara administratif masuk dalam wilayah Pemerintah Kota, namun daerah tempat saya tinggal tidak begitu ramai seperti layaknya wilayah lain. Suasana kampung masih kental terasa. Setiap pagi masih banyak warga yang berjalan jalan untuk merenggangkan badan. Di pinggiran jalan, beberapa ibu-ibu menjajakan jajanan tradisional dan sarapan pagi. Bapak-bapak penjual soto juga tampak menikmati racikan masakannya. Dagangan mereka tak pernah sepi. Benar-benar nafas kehidupan penuh harmoni.

Setelah berlari-lari kecil memutari perkampungan, tak beberapa lama saya dikejutkan dengan suara keras. 

Brakkkk.....

Sebuah kecelakaan terjadi tak jauh di depanku. Seorang gadis muda tampak terkapar di jalan. Posisi kepala belakang membentur aspal. Beruntung, helm putih si gadis masih melekat kuat. Sehingga dapat meredam kerasnya energi yang menghantam. Saya tidak melihat persis kronologi kejadian. Karena kecelakan itu begitu cepat. Secepat laju kendaraan si gadis.

Serentak ibu-ibu dan bapak-bapak yang ada di sekitar lokasi langsung menghampiri gadis tersebut. Membopongnya ke pinggir jalan. Memberikan pertolongan pertama dan berusaha menenangkan kondisi. Si gadis tampak masih terkejut dengan kejadian yang menimpanya. Seorang bapak paruh baya segera membawakan air putih dari dalam rumahnya. Seorang ibu memastikan kondisi tubuh si gadis tidak terluka parah. Seorang bapak lainnya berusaha menegakkan tubuh si gadis dan melepas helm yang dikenakannya. Seorang ibu yang lebih muda mengusap-usap kening si gadis dan mengajaknya bicara. 

Tak lama, si gadis mulai tampak tenang. Bernafas pelan teratur. Dan mampu menjawab. Ia berterima kasih dan mengatakan dirinya tak apa-apa. Alhamdulillah..

Saya tertegun mengamati kejadian itu. Dalam hati saya mensyukuri dapat menyaksikan kejadian pagi ini. Saya bersyukur menjadi saksi kebaikan dan ketulusan dari bapak-bapak dan ibu-ibu tersebut. Kebaikan dan ketulusan yang mungkin mulai luntur di tempat lain. 

Yeah, Yogyakarta di balik pacu derap langkahnya, tetap tak meninggalkan jati dirinya. Selalu menawarkan senyum tulus bagi siapa pun yang menghampirinya.

Yogyakarta selalu berhati nyaman. Bagi siapapun. Semoga sampai kapanpun. 
Terimakasih, saya belajar sesuatu hari ini...

Selasa

Mengajar Atau Membuat Kapok?


Ada cerita, moga berguna...
Sebuah cerita sore hari ini. Saya persembahkan untuk orang tua, calon orang tua, guru, pendidik dan semua orang yang berinteraksi dengan anak-anak.


Tadi sehabis maghrib, seperti biasa saya mengajar ngaji anak-anak di masjid dekat kos. Namun, ada yang mengejutkan saya hari ini. Di salah satu sudut masjid ada seorang ibu, yang merupakan guru ngaji tetap di masjid itu, sedang marah dengan hebat. 

Perkaranya ada salah satu anak yang dituduh "melompat" halaman, sehingga hampir khatam (selesai-Pen) lebih cepat. Si anak berusaha membela diri dengan nada lirih. Namun si ibu semakin keras memarahi si anak. Hingga akhirnya si anak menangis. Si ibu tak kunjung berhenti memarahi.

Saya tidak tahu siapa yang benar dalam kondisi ini. Saya hanya amat sangat kecewa dengan cara si ibu. Dalam hati saya bertanya, "Bu, anda mau mengajar anak mengaji atau malah mau membuat anak kapok mengaji? Apa ibu tidak berfikir akibat jangka panjang kemarahan berlebihan ini?"

Bisa jadi si anak memang salah. Namun saya kurang setuju jika dia dihakimi sedemikian rupa dihadapan teman-temannya. Menurut saya, anak-anak memang terkadang mempermainkan sesuatu. Mengaji sambil bermain. Sholat sambil bermain.  Belajar sambil bermain. Namun, itulah dunia mereka. Kita saja lah yang terlalu serius. Dan memaksa anak-anak untuk ikut serius. 

Kejadian serupa mungkin bukan kali pertama terjadi. Di tempat-tempat belajar lain, di ruang-ruang kelas, bahkan di rumah pun, anak-anak selalu menjadi objek pelampiasan emosi kita para orang tua. Anak-anak bukanlah seperti tanah liat yang bisa bebas kita bentuk dan warnai menjadi keramik seperti yang kita suka. Mereka terlahir dengan bentuk dan warnanya sendiri. 

Tugas kita adalah menempatkannya pada tempat yang tepat, memolesnya agar warnanya semakin cerah dan merawatnya agar mereka bisa menjadi keramik yang bernilai tinggi. Jika mereka salah, kita bisa memberi nasehat dengan cara yang bisa diterima mereka. Kita sebagai orang tua, katanya lebih dewasa, lah yang harus menyesuaikan diri dengan anak-anak.

Sambil terus melanjutkan mengajar ngaji, tidak sadar si anak sudah duduk di belakang saya sambil tersedu. Saya menoleh, merangkul dan mengusap kepalanya sambil berusaha menghibur.

"Sudah ya dek, jangan nangis terus. Cah lanang kok (anak laki-laki kok-Pen). Ntar mas aja yang ngajar ngaji. Sekarang kita tos dulu"

Si anak membalas tos saya dan kemudian tangisnya terhenti. Saya pun tersenyum. 
Anak-anak memang hanya butuh dimengerti :)

Senin

Just The Beginning

Thank you to my Communication Department of UIN Sunan Kalijaga.
The souvenir look so good.

Thank you so much to my Dad & Mom for send me an awesome sovenir from Lombok.
It's mesmerized everybody here.

Our Corporate Affairs team. Full of passion to find great idea everyday!

Great father, great son!

Jumat

Rokok Kretek Ternyata Obat Asma


Tahukah anda, ternyata rokok kretek dulunya terinspirasi dari obat asma?
Begini ceritanya…

Sejarah industri rokok kretek di Indonesia tak dapat dipisahkan dari sosok Haji Djamahri, seorang penduduk di Kudus. Pada suatu waktu di tahun 1880, Haji Djamahari yang telah lama mengidap penyakit asma mencoba mengobati penyakitnya. Ia menggosok-gosokkan minyak cengkeh ke bagian dada dan punggungnya. Cara ini cukup berhasil mengurangi rasa sakitnya, walaupun belum sembuh total. Selanjutnya ia mencoba mengunyah cengkeh yang ternyata membuatnya jauh lebih baik. Sehingga terlintas dalam fikirannya untuk memasukkan cengkeh ke dalam paru-parunya. 

Haji Djamhari kemudian merajang cengkeh hingga halus, lalu dicampurkan dalam tembakau yang biasa ia gunakan untuk merokok. Dengan cara ini ia dapat menghisap asap cengkeh yang bercampur tembakau tersebut. Tanpa diduga, penyakit asmanya sembuh.

Cara pengobatan ini dengan cepat dikenal oleh masyarakat sekitar tempat Haji Djamhari tinggal. Keluarga dan teman-temannya mulai banyak memesan rokok mujarab yang dihisapnya. Hingga memaksa Haji Djamhari membuat rokok campuran cengkeh dalam jumlah besar. Banyak orang yang kemudian mencoba mengikuti jejaknya, sehingga lahirlah industri rokok di Kudus.

Pada awalnya, masyarakat Kudus menyebut jenis rokok hasil temuan Haji Djamhari sebagai “rokok cengkeh”. Namun, karena rokok ini menimbulkan suara “kretek-kretek” saat dihisap akibat campuran rajangan cengkeh, rokok ini kemudian dinamakan “rokok kretek”. Nama ini merupakan contoh penggunaan bahasa anomatopeia untuk objek yang namanya berasal dari bunyi yang dihasilkan.

Pada tahun-tahun pertama kelahirannya, perdagangan rokok kretek hanya terbatas di Kudus dan sekitarnya. Namun, dalam waktu singkat rokok kretek juga digemari di daerah-daerah lain. Sedikit demi sedikit jangkauan pasar rokok kretek meluas, menjangkau berbagai daerah di dalam dan luar pulau Jawa.

Nah, bagi para perokok, bagaimana pendapat anda?



Rabu

Hidup Untuk (Mempersiapkan) Mati



Pagi ini aku terbangun dari tidurku. Tak banyak yang ku lakukan. Hanya aktivitas yang biasa setiap harinya. Sholat subuh seperti biasa. Mengaji seperti biasa. Membaca buku seperti biasa. Mendengarkan lagu seperti biasa. Mandi seperti biasa. Ayam-ayam berkokok seperti biasa. Matahari pun terbit seperti biasa. Tak ada yang istimewa. Aktivitas yang sama setiap waktunya. 

Yang berbeda adalah, hari ini usiaku berkurang satu tahun. Tak terasa sebentar lagi, usiaku akan mencapai seperempat abad. Ah, mengapa semua terasa cepat?  Aku masih ingat, ketika pertama kali belajar menggunakan sepeda dibantu Ayahku. Aku masih ingat, ketika mendaftar di bangku Sekolah Dasar bersama Ibuku. Aku masih ingat, ketika pertama kalinya dalam hidup meninggalkan kampung halaman, untuk belajar di sebuah Pondok nun jauh di rantauan. Aku masih ingat, ketika mendaftar masuk kuliah di kota Apel. Namun akhirnya tak berhasil ku selesaikan. Dan aku pun masih ingat, ketika kembali mencoba peruntungan untuk belajar di kota pelajar. Semuanya aku ingat dengan sangat jelas.

Tapi ada satu hal yang hingga kini belum mampu ku ingat dengan jelas. Aku masih belum bisa mengingat, apa tujuanku terlahir ke dunia ini? Aku masih belum bisa mengingat, atas dasar alasan apa aku bisa tumbuh dan besar hingga kini? Aku masih belum bisa mengingat, atas pertimbangan apa aku dapat melewati setiap tahap dalam hidup yang aku masih ingat dengan jelas? Aku benar-benar tak mampu mengingatnya.

Aku bertanya pada banyak orang yang ku temui. Untuk alasan apa kamu hidup? Untuk alasan apa anda hidup? Untuk alasan apa saudara hidup? Untuk alasan apa Bapak hidup? Untuk  alasan apa Ibu hidup? Dan ku temukan bepuluh-puluh jawaban.

Kata mereka, hidup untuk mencari kekayaan. Hidup untuk mencari kejayaan. Hidup untuk mencari ketenaran. Hidup untuk mencari kedudukan. Hidup untuk mencari kekuasaan. Hidup untuk memenuhi keinginan. Hidup untuk kepuasan, nafsu duniawi ataupun nikmat surgawi. Yeah, entahlah. Apakah mereka itu sudah benar – benar menemukan jawaban untuk pertanyaanku. Atau mungkin jawaban-jawaban itu, hanya untuk menutupi ketidaktahuan mereka akan pertanyaanku. Entahlah… 

Samar-samar aku teringat suatu hari saat masih duduk di bangku sekolah dasar. Ayah menjemputku secara tiba-tiba. Membawa kabar yang tak pernah ku duga. Kakekku tercinta telah pergi ke pangkuan Sang Kuasa. Innalillah wa inna ilaihi raji’un. 

Namun, bayangan yang muncul saat ini bukanlah kesedihanku kala itu. Bayangan yang muncul saat ini adalah ketakjubanku kala melihat penuh sesaknya pelayat yang datang. Dari tenda didirikan hingga kakek dihantar ke peristirahatan terakhirnya. Mungkin ada sekitar seribu orang hadir hari itu. Dalam hati aku bertanya, apa yang membuat kakek begitu istimewa bagi mereka?

Kakek memang dikenal sebagai sebagai Tuan Guru atau Kyai di daerahku. Beliau punya murid banyak. Dari petani hingga gubernur. Dari remaja hingga orang tua. Perempuan dan laki-laki, silih berganti datang ke rumah untuk belajar mengaji. Beliau tak pelit ilmu. Bahkan membuka majelis untuk mereka yang haus akan ilmu.  Kakek juga dikenal pandai menjaga silaturahmi. Berkeliling ke rumah tetangga-tetangga, teman-teman, murid-murid dan guru-guru adalah aktivitas yang sering beliau lakoni.

Sesaat kemudian, tampak benang merah dari lamunanku. Samar-samar ku terngiang bait-baik kecil sebuah syair Arab. Syair yang dulu guruku senang membacakannya.

Waladatka ummuka yabna adama bakiyan
Wannaasu haulaka yadhhakuuna suruura
fajhad linafsika an takuuna idza bakau
liyaumi mautika dhahikan masruura

- - -

Wahai anak adam, 
Engkau dilahirkan dalam keadaan menangis oleh ibumu
Dan manusia di sekitarmu tertawa bahagia menyambutmu
Berbuatlah kebajikan, agar saat kematian menjemputmu
Manusia di sekitarmu menangis menghantarkanmu
Dan engkau pergi dengan gembira penuh haru

- - -

Aku tersadar, sesungguhnya kakeku telah siap menyambut panggilan Sang Pencipta. Beliau dengan sangat baik menyiapkan kematiannya. Beliau menyiapkan kematian yang mulia. 

Kematian adalah sesuatu yang membuat bulu kuduk berdiri. Tapi dalam hidup, menjadi satu-satunya hal yang pasti terjadi. Aku pun takut mati. Tapi tak mungkin kuhindari. Satu-satunya hal yang bisa kulakukan adalah menyiapkan diri. Agar aku tak sendiri saat mati. Aku harus berusaha agar saat Izrail datang, orang-orang sukarela datang menghampiri. Menghantarkan tubuh ini, kembali ke peristirahatannya yang abadi.

Dan kini aku mampu mengingat, apa tujuanku terlahir ke dunia ini. Aku lahir lalu hidup untuk mempersiapkan mati. (Mufid)


Senin

Senyum Untuk Desa Ngloro Berhasil Digelar


Alhamdulillah, akhirnya program sosial Senyum Untuk Desa berakhir sudah. Banyak hal yang kami dapatkan selama menjalani program ini. Suka duka ketika menggarap  proyek sosial ini menjadi pengalaman berharga yang tak akan terlupakan selama hidup.
Senyum Untuk Desa adalah program Social Responsibility  yang diinisiatori oleh rekan-rekan mahasiswa UIN Sunan Kalijaga. Program ini tercetus bertepatan dengan momentum libur puasa dan lebaran tahun 2012. Di awal-awal obrolan, kami berfikir untuk melakukan sesuatu hal yang bermanfaat untuk mengisi liburan panjang ini. Kegiatan tersebut juga tidak hanya memberikan manfaat untuk diri sendiri, tapi juga untuk orang lain yang lebih banyak. Akhirnya setelah beberapa kali bertemu, tercetuslah program  ini. Berikut beberapa dokumentasi kegiatan yang berhasil kami selenggarakan.

Bantuan pengadaan air bersih untuk Masjid desa.

Mengajar di Sekolah Dasar (SD) Dusun Ngloro.

Silaturahim & buka puasa bersama takmir masjid untuk evaluasi program pengajaran TPA.

Belajar bersama tentang berbagai hal di Sekolah Dasar (SD) Dusun Ngloro,

Berfoto bersama anak-anak setelah mengajar di Sekolah Dasar (SD) Dusun Ngloro,

Pembinaan Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPA) di Dusun Ngloro.

Turut menyemarakkan Ramadhan & Idul Fitri 1433 H dengan pembuatan spanduk
"Marhaban ya Ramadhan & Idul Fitri".


Stand Bazar Ramadhan menyediakan sembako murah dan pakaian layak pakai.
Ibu-ibu bersabar mengantri untuk penukaran kupon Bazar Ramadhan.

Ibu-ibu dan remaja putri memilih pakaian layak pakai untuk dibawa pulang.

Penulis bersama Bapak Sugiyatno, kepala Dukuh Ngloro.



Tak lupa kami mengucapkan terimakasih kepada seluruh donatur yang telah menyisihkan sebagian dari rezekinya untuk mendukung program Senyum Untuk Desa ini. Semoga di lain kesempatan, kita dipertemukan kembali untuk berbagi kebahagiaan bagi sahabat-sahabat kita di desa.

Rabu

Perhumas Muda Yogyakarta Berganti Nahkoda







Hari Selasa malam, 11 September 2012 kemarin menjadi momentum penting bagi Perhimpunan Humas Muda Yogyakarta (PMY). Memasuki tahun ketiga usianya, organisasi yang mewadahi mahasiswa Ilmu Komunikasi konsentrasi Public Relations (PR) dari seluruh kampus di Yogyakarta ini memilih ketua baru untuk melanjutkan roda organisasi selama satu tahun kedepan.

Dalam acara Halal Bi Halal yang berlangsung di Angkringan Teraz, Seturan, Yogyakarta ini, terpilihlah Panggah Pambudi dari UPN “Veteran” sebagai ketua umum periode 2012-2013. Panggah terpilih melalui sistem voting selama dua putaran, setelah mengalahkan empat kandidat lain dari kampus-kampus yang menjadi anggota PMY, diantaranya Durrotul Mas'udah (UIN Sunan Kalijaga), Angelina Linda Dian Hartono (UAJY), Andrian Yulianto (UGM), dan Herni Putrianti (UMY). Para kandidat adalah anggota aktif PMY yang ditunjuk oleh anggota lain untuk mewakili kampus masing-masing menjadi calon ketua. Mereka adalah mahasiswa yang aktif dalam berbagai kegiatan di kampusnya dan yang diselenggarakan oleh PMY. Menurut ketua panitia, Beni Wijaya (UIN Sunan Kalijaga), acara ini bertujuan untuk regenerasi pengurus sebagai pelanjut  tongkat estafeta PMY. “Pengurus periode sebelumnya sebagian telah menjadi mahasiswa tingkat akhir, bahkan beberapa sudah diwisuda dan bekerja. Sehingga dirasa perlu menyelenggarakan pemilihan ketua baru untuk melanjutkan estafeta organisasi,” tambah Beni.

Acara dimulai dengan silaturahim dan berma’af-ma’afan dalam suasana Idul Fitri yang diikuti oleh seluruh anggota yang hadir. Dilanjutkan dengan laporan pertanggungjawaban dari seluruh divisi periode kepengurusan 2011-2012 dibawah kepemimpinan Mufid Salim (UIN Sunan Kalijaga).
“Alhamdulillah, periode kepengurusan kami sudah berjalan dengan maksimal. Banyak kegiatan pengembangan keilmuan PR yang berhasil kita selenggarakan. Kami berharap prestasi ini dapat terus dipertahankan oleh pengurus selanjutnya”, ungkap wakil ketua PMY, Ayudha Ghora Dhira (UGM) dalam laporan pertanggungjawabannya.

Acara kemudian berlanjut dengan pemaparan visi dan misi dari para kandidat. Mereka dituntut untuk dapat meyakinkan para anggota, bahwa mereka layak dipercaya untuk memimpin organisasi selama satu tahun. Acara berlangsung secara interaktif dan meriah. Semua anggota yang hadir diberi kesempatan untuk bertanya langsung tentang program kerja dan gaya kepemimpinan mereka jika mereka benar-benar terpilih. Masing-masing kandidat memiliki pendukung yang solid. Sehingga para kandidat berusaha menarik hati anggota lain melalui paparan visi dan misi jika mereka terpilih sebagai ketua.

Panggah dan Durrotul bersaing cukup ketat pada pemungutan suara putaran pertama. Sehingga mereka lolos sebagai kandidat dua besar. Pada putaran kedua, Panggah berhasil mengumpulkan dua suara lebih banyak di banding Durrotul. Dalam visinya, Panggah berkomitmen untuk membangun sinergitas antara pihak internal dan pihak eksternal PMY untuk mengembangkan pengetahuan kehumasan bagi mahasiswa Ilmu Komunikasi di Yogyakarta.

PMY merupakan organisasi profesi bagi mahasiswa yang memiliki minat di bidang PR. Semenjak pembentukannya pada bulan Mei 2010, PMY rutin menyelenggarakan acara-acara diskusi serta seminar tentang PR di kampus-kampus di Yogyakarta. Dalam satu tahun kepemimpinan Mufid, PMY telah menyelenggarakan beberapa kegiatan diantaranya diskusi tentang PR antar mahasiswa, pelatihan public speaking, Study Excursion (kunjungan) ke beberapa perusahaan di Jakarta, seminar Prospek dan Tantangan PR di Perusahaan Tambang, talkshow Tren Pariwisata di Thailand, dan talkshow Tren PR di Indonesia. Hingga saat ini, anggota PMY berjumlah total 52 orang dari enam kampus di Yogyakarta. Kedepannya, pengurus menargetkan untuk merangkul lebih banyak lagi anggota dari berbagai kampus yang belum bergabung.

“Tanggungjawab mengembangkan ilmu PR di Yogyakarta bukan hanya milik satu kampus, tapi merupakan tanggungjawab bersama semua kampus yang ada. Sehingga kami mengajak para mahasiswa untuk turut merasakan atmosfir dan manfaat yang sama melalui organisasi profesi di tingkat mahasiswa”, tegas Prayudi Ahmad, Ph.D, pembimbing PMY sekaligus anggota Perhumas Badan Pengurus Cabang (BPC) Yogyakarta.

Perhumas Muda juga terdapat di kota-kota lain seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya dan Malang. Masing-masing memiliki kepengurusan dan anggota dari kampus-kampus yang ada di tiap kota tersebut. Perhumas Muda merupakan organisasi yang dibina langsung oleh Perhimpunan Hubungan Masyarakat (PERHUMAS), himpunan praktisi dan akademisi PR di Indonesia yang sudah berdiri sejak tahun 1972.  Untuk wilayah Jogja, PMY di bimbing oleh Perhumas BPC Yogyakarta.

Akhirnya, banyak harapan ditujukan kepada kepengurusan Panggah Pambudi. Semoga dengan semangat dan amunisi baru, dapat terus membawa kapal PMY berlayar lebih jauh lagi. Selamat berjuang dan berkarya, nahkoda baru PMY. Do’a kami menyertaimu.


Kamis

Wallpaper KKN 77 UIN Sunan Kalijaga 2012


Sambil menjalani kegiatan Senyum Untuk Desa, saya berinisiatif saja untuk membuat wallpaper ini. Tujuannya, agar laptop selalu tampak update & ceria dengan setiap kegiatan yang dilakukan. Untuk teman-teman yang ingin men-download, saya persilahkan.
Selain membuat wallpaper, saya pun memproduksi sticker untuk membantu pendanaan program. Siapa tahu ada sebagian teman-teman yang tertarik untuk memiliki :)

Selasa

Pengalaman Ramadhan dan Idul Fitri 1433 H


Alhamdulillah, tahun ini kita tetap diberi kesempatan untuk bertemu Ramadhan dan Idul Fitri 1433 H. Sebuah kebahagiaan bagi saya pribadi dan teman-teman yang menjalaninya. Tahun ini banyak pengalaman berbeda yang saya dapatkan jika dibanding pada tahun-tahun sebelumnya. Pengalaman pertama, adalah merasakan Ramadhan di Desa Ngloro, pelosok Gunung Kidul, Yogyakarta. Betapa berbedanya nuansa yang saya rasakan jika dibanding berpuasa di kota Yogyakarta tahun sebelumnya. Nuansa yang saya rasakan adalah keakraban dan kesibukan saat mengikuti kegiatan. Kebetulan, tahun ini saya sedang menjalani program Kuliah Kerja Nyata (KKN) selama dua bulan. Terhitung mulai pertengahan Juli hingga pertengahan September. Praktis saya melewatkan puasa di lokasi KKN. Saya tidak pernah membayangkan akan melewatkan puasa tahun ini di lokasi yang sangat sulit akses transportasi dan informasinya. Bahkan, beberapa teman kesulitan mendapatkan air untuk mandi, cuci dan kaskus (MCK). Karena memang daerah tempat mereka bertugas, belum mendapatkan akses air dari PDAM. Beruntung, kelompok saya tidak separah itu. Sehingga saya dan teman-teman dapat menikmati aktivitas MCK dengan baik. 

Pengalaman kedua, yaitu merasakan sholat Idul Fitri di kota Solo. Berbeda pada tahun-tahun sebelumnya, saya selalu melewatkan lebaran di kota Gadis, Madiun, Jawa Timur. Semenjak tahun 2010, saya berlebaran di rumah mbah dan sholat Ied di masjid dekat rumah beliau. Tahun ini, saya mendapat pengalaman sholat Ied di depat halaman keraton solo yang notabenenya masih terdapat peninggalan-peninggalan bangunan asli keraton. Contohnya adalah keberadaan patung-patung tokoh-tokoh dalam legenda jawa yang selalu ada disetiap bangunan keraton. Saat mendengarkan khotbah, saya sempet terpesona memandangi patung-patung yang ada. Membayangkan bagaimana dulunya agama islam dapat hadir ke lingkungan kerajaan Karasidenan Solo. Hingga akhirnya menciptakan akulturasi budaya, dengan tetap mempertahankan seni budaya peninggalan Hindu-Budha. Betapa, agama Islam yang masuk ke kerajaan ini begitu damai dan fleksibel. Sehingga memunculkan nuansa keagamaan yang berbeda dengan daerah lainnya.

Yeah, saya selalu bersyukur, tidak pernah mengalami kemunduran terhadap setiap momen-momen penting dalam hidup saya. Saya menargetkan, harus selalu mendapat pengalaman dan pembelajaran baru pada tahun-tahun berikutnya. Bukan hal yang tidak mungkin, setelah target mengelilingi kota di pulau jawa terlampaui, saya bisa berkeling untuk merasakan puasa dan lebaran di kota-kota lain di seluruh Indonesia. Amin ya Rabbal 'Alamin.

Pada akhirnya, saya mengucapkan taqobbalallahu minna wa minkum, taqobbalallahu ya karim. Minal 'aidzin wal faidzin, mohon ma'af dari lahir jasmani dan batin ragawi. Selamat hari raya Idul Fitri 1433 H. Sampai bertemu tahun depan ya.


Sabtu

Senyum Untuk Desa


Mengajar di Sekolah Dasar (SD) Dusun Ngloro

Belajar bersama tentang berbagai hal di Sekolah Dasar (SD) Dusun Ngloro

Berfoto bersama anak-anak setelah mengajar di Sekolah Dasar (SD) Dusun Ngloro

Pembinaan Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPA) di Dusun Ngloro

 Turut menyemarakkan Ramadhan & Idul Fitri 1433 H dengan pembuatan spanduk
"Marhaban ya Ramadhan & Idul Fitri"


Mengabdi & berbagi untuk saudara kita di desa

Hallo brother n sister, 
dalam rangka memperingati bulan suci Ramadhan, saya & teman2 UIN Sunan Kalijaga mengadakan kegiatan positif & proaktif untuk adik-adik & remaja di pedesaan Ngloro, Gunung Kidul, Jogja. 

Karena lokasi yg terpencil, mereka tidak bisa mengenyam pendidikan formal hingga maksimal. Setelah tamat SMP, sebagian besar langsung kawin ataupun bekerja, sebagai buruh kasar di Jogja. Pemahaman agama masyarakat masih terbatas. Terbukti, tiap sholat jum'at, hanya 1 shaff yang terisi oleh jama'ah. Kesadaran untuk berwirausaha secara mandiri juga masih kecil. Padahal banyak potensi ekonomi yang bisa di kembangkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Contohnya seperti singkong yang sangat melimpah di desa ini.

Kami mencoba berbuat sesuatu yang sederhana untuk memberi solusi masalah sosial ini. Yaitu dengan cara memberikan:
- Pelatihan dasar-dasar komputer untuk anak-anak dan remaja, 
- Pelatihan keterampilan membuat kreasi dari kain flanel, 
- Pelatihan teknik mengajar bagi guru-guru TPA
- Pelatihan pengembangan usaha produksi kripik bagi ibu-ibu PKK
- Pelatihan wirausaha bakso bagi remaja desa
- Pengadaan prasarana masjid & musholla

Agar kegiatan tersebut berjalan dengan maksimal, kami membutuhkan bantuan donatur untuk meringankan biaya operasional kegiatan. Bantuan dapat berupa uang tunai,  buku-buku penunjang, Al-Qur'an & Iqra', ataupun peralatan penunjang pengajaran (papan whiteboard, spidol, meja kecil dll)

Bagi yang ingin berbagi kebahagiaan kepada saudara-saudara kita di desa pelosok Gunung Kidul, dapat menghubungi saya di nomer 0857 4234 2030.
Juga dapat langsung mentransfer ke Rekening Bank BRI 0410-01-009319-50-4

Ayuk, kita beramal untuk sesama. Karena sebaik-baik manusia, adalah yang bermanfaat untuk manusial lainnya :)

Terimakasih banyak ya.
Selamat beribadah puasa, mari banyak beramal.


Selasa

My Photograph on Vote#12 Mandala Krida








Ini adalah beberapa foto yang berhasil saya dapat ketika konser bertemakan Vote#12. Konser yang bertempat di Stadion Mandala Krida Yogyakarta ini di selenggarakan oleh siswa-siswi SMA Negeri 1 Yogyakarta. Dalam rangka malam perpisahan bagi kelas 12 yang akan melanjutkan pendidikan ke Universitas. Hadir dalam kesempatan ini bintang tamu dari band lokal dan nasional, seperti Display, The Product Gagal, Captain Jack dan Netral.

Mengabadikan momen konser memiliki tantangan tersendiri. Selain kita dituntut jeli untuk menangkap momen yang menarik. Misalnya ketika menangkap momen ketika asap buatan muncul diselingi permainan lampu latar yang meriah.
Peralatan kita juga dituntut memadai. Karena setiap konserp pasti penuh sesak dengan penonton. Disaat inilah, lensa tele sangat berguna. Selamat mencoba kawan :)