Senin

BNI Syariah Untuk Kemashlahatan Umat

Krisis ekonomi global beberapa waktu lalu telah membuat para pemimpin dunia berfikir mencari jalan keluar bagi permasalahan ekonomi umat. Hal ini menunjukkan bahwa sistem perbankan konvensional sangat rapuh. Karena dominannya sektor finansial dibanding sektor riil dalam hubungan perekonomian dunia. IMF pun melakukan kajian terhadap praktek perbankan yang telah di terapkan di negara-negara muslim dan negara-negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam termasuk Indonesia. Dengan harapan, dapat menyempurnakan sistem perbankan internasional yang banyak mengalami goncangan sehingga menyebabkan krisis dan keterpurukan ekonomi. Sistem perbankan yang tahan goncangan tersebut adalah sistem perbankan syariah. Sistem perbankan berdasarkan pada Al-Quran dan As-Sunnah (Q.S Al-Baqarah: 278-279; Al-Imran: 130; An-Nisa: 161; Ar-Rum: 39).


Landasan hukum bank syariah di Indonesia melalui Undang-Undang No 10 tahun 1998, memberi kesempatan kepada bank syariah untuk berkembang lebih luas. Didalamnya menyatakan secara rinci prinsip produk perbankan syariah seperti Murabahah (jual beli dengan kesepakatan harga), Ishtisna (jual beli barang melalui pesanan), Mudharabah (kesepakatan bagi hasil), Musyarakah (pernyertaan modal), dan Ijarah (persewaan barang). Dilengkapi dengan SK Direksi Bank Indonesia yang memberikan peluang bank konvensional untuk mengkonversi atau membuka cabangnya menjadi cabang syariah. Salah satu bank yang telah menkonversi cabangnya adalah BNI Syariah.



BNI Syariah dengan komitmennya untuk menjadi pilihan masyarakat sebagai mitra dalam mengelola perbankan syariah, berusaha mewujudkan ketentraman dan kebahagiaan umat di dunia dan di akhirat. Dalam operasi fungsinya, BNI Syariah menerapkan Good Corporate Governance (GCG) yaitu tata kelola bank dengan prinsip-prinsip keterbukaan (transparency), akuntabilitas (accountability), pertanggungjawaban (responsibility), profesional (professional), dan kewajaran (fairness). Hal tersebut sejalan dengan prinsip tata kelola perusahaan secara islami yang berdasarkan persaudaraan (ukhuwah), keadilan (adalah), kemashlahatan (maslahah) dan kesimbangan (tawazun).


Fokus utama BNI Syariah adalah sebagai transactional bank yang melayani kebutuhan transaksi bisnis ritel dan consumer. Strategi bisnis diarahkan untuk melayani masyarakat pada segmen UMKM dan pengembangan industri di daerah-daerah. Yaitu dengan berbagai macam produk layanan mulai consumer banking, small business banking hingga corporate banking. Layanan Internet Banking dan Phone Banking BNI Syariah juga mendukung berbagai transaksi perbankan 24 jam dengan mudah, nyaman dan aman. Jaringan 60 outlet syariah yang tersebar di seluruh Indonesia, serta lebih dari 750 Kantor Cabang BNI siap memberikan pelayanan maksimal kepada konsumen.


Sebagai bukti pelayanan maksimal BNI Syariah telah mendapatkan penghargaan di antaranya, sebagai kartu kredit pertama yang menginspirasi berwirausaha (BNI Hasanah Card) oleh Rekor Bisnis 2010, The Best in Achieving Total Customer Satisfaction oleh Indonesia Customer Satisfaction Award (ICSA) 2010, serta penghargaan Brand Equity Champion of Islamic Banking oleh Indonesia Brand Champion 2011.


Menjadi harapan besar masyarakat kepada BNI Syariah untuk dapat terus meningkatkan pelayanannya, serta terus mengedukasi masyarakat tentang manfaat bank syariah untuk kemashlahatan umat dan solusi sistem perbankan internasional.

DESIGN THAT CHANGE - DESIGN CONFERENCE





DESIGN THAT CHANGE, Sebuah Konferensi Desain yang dibuat dalam mendukung kampanye OBAH Fight Blood Disorders, sebuah kampanye penggalangan dana untuk anak penderita kanker dan kelainan darah. Diselenggarakan hari minggu, 24 April 2011, di University Hotel dengan pengunjung mencapai 175 orang memenuhi ruangan seminar berkapasitas 300 orang. Pembicara dari berbagai disiplin desain, berbagai daerah, berbagai ideologi, dan keyakinan bertemu dalam satu ruang dan satu meja dia akhir sesi. memikirkan kembali makna desainer sebagai agen perubah.Diantara pembicara yang hadir, tampak Glen Marsalim, Wahyu Aditya, Dik Doank dan Sumbo Tinarbuko.
Sebagai orang yang punya sedikit minat di dunia desain, saya pun tertarik mengikuti acara ini. Terus terang, daya tarik awalnya adalah para pembicara yang memang top di bidangnya masing-masing. Namun, setelah mengikuti acara ini, sedikit banyak saya pun mendapat perspektif baru tentang dunia desain. Poin yang saya ambil adalah, desain tidak melulu berbicara tentang tampilan dan keindahan visual. Tapi yang terpenting adalah apa pesan yang hendak disampaikan melalui suatu desain. Suatu desain akan mempunyai makna lebih ketika ia bisa merubah pandangan orang, menginspirasi orang menuju keadaan yang lebih baik. Ketika desain sudah mencapai level itu, ia akan abadi.

Minggu

Menjadi Penggembala (Cowboy) yang Handal


Aku terus berfikir..
Mengapa semua nabi punya background pengembala?
Setelah sekian lama, aku bertemu argumen cukup kuat, buat menjawabnya. Mengembala adalah proses pendidikan mental para Nabi sebelum terjun memimpin umatnya. Mengembala butuh skill untuk bisa mengatur hewan-hewan gembala dengan keinginan masing-masing.
Umat para Nabi adalah sekumpulan manusia yang punya pikiran sendiri, dengan permasalahan yang lebih kompleks. Diperlukan pula skill untuk bisa mimpin n mengarahkan hingga sampai pada tujuan. Dan para Nabi sukses melakukannya.
Klo hal itu dikaitkan dengan cara kita memenej perusahaan, banyak contoh yang bisa diambil.
Mantan capres AS, Ross Perot juga nekanin "People can't be managed. Inventories can be managed, but people must be led!"
Iyapz, manusia hanya bisa dipimpin, bukan di atur.
Memimpin adalah seni, dan seni butuh dilatih.
Bagaimana melatihnya?
James M. Kouzes dan Barry Z. Posnes menjelaskan caranya dalam buku Leadership Challenge:
1. Mencari kesempatan, bereksperimen dan berani mengambil resiko (yg terukur)
2. Mampu menginspirasi dengan menetapkan tujuan bersama
3. Bangun team-work yang solid, delegasikan wewenang dan bertanggung jawab
4. Mampu menjadi model bagi anggota tim, apa yg dipikirkan harus sama dg yg diucapkan dan dilakukan
5. Mampu menghargai sekecil apapun performance anggota. Dan setiap prestasi harus di "rayakan".
Yeah, hasil renungan dari sebuah buku, moga bermanfaat buat siapapun :)

Jumat

Pengalaman Jadi Tentor


Alhamdulillah, hari ahad (10/04) kemaren adalah hari terakhir program bimbingan khusus persiapan Ujian Nasional 2011, yang diadakan oleh Gama Exacta. Wah, rasanya senang bercampur bingung. Senang bisa menyelesaikan tugas dengan baik, sekaligus bingung, setelah itu harus mencari kegiatan apa lagi yang produktif.

Terus terang, ini adalah kali pertama saya kembali mengajar semenjak mulai duduk dibangku kuliah tahun 2007 lalu. Sebelumnya, saya bersama teman-teman pernah mengelola bimbingan belajar mandiri untuk internal SMA ketika menjelang Ujian Akhir Nasional tahun 2007. Ketika itu berbekal nekat, kami berinisiatif mengadakan bimbel untuk teman-teman seangkatan yang jumlahnya mencapai 1900 orang. Guru-guru pengajar mata pelajaran yang diujikan di UAN kami lobi untuk bisa meluangkan waktunya di luar jam
sekolah. Setiap malam, kami begadang menyusun soal dari buku-buku persiapan UAN. Paginya, kami menyebar pengumuman pendaftaran. Perjuangan tersebut membuahkan hasil, hampir sebagian besar angkatan kami mengikuti bimbingan belajar tersebut, dan tentu saja profit pengelolaan bimbel tersebut mampu membantu kami membeli komputer, scaner dan printer sendiri untuk departemen OSIS kami.

Pengalaman menjadi tentor ini bermula dari tawaran iseng seorang teman senior di kampus. Ia mengajak saya untuk ikut mengajar karena menurut dia, kemampuan saya dirasa cukup. Tawaran itu, tidak begitu saya gubris seketika.
Namun ketika saya pulang ke Lombok, kedua orang tua terutama ibu mendesak agar saya menerima tawaran tersebut. Sebenarnya, saya merasa belum sepenuhnya mampu mengajar. Selain karena merasa pengetahuan masih biasa saja, juga karena saya tidak memiliki cita-cita menjadi seorang guru. Sekembali ke Jogja, dengan berbagai pertimbangan, saya pun akhirnya mencoba mendaftar tepat di hari terakhir batas pendaftaran. Setiap tahapan tes memunculkan keyakinan, bahwa saya sebenarnya bisa. Muncullah motivasi untuk berani mencoba tantangan mengajar ini.
Program bimbingan pun dimulai, pekan demi pekan, saya dan kawan-kawan berkunjung ke berbagai kota mulai dari Madiun, Pati, Purworejo, Sukoharjo, Purbalingga hingga Kuningan. Perasaan grogi adalah hal yang lumrah di setiap mengawali kegiatan baru, begitu pula dengan kegiatan mengajar ini. Seiring dengan waktu, saya menemukan keasyikan tersendiri. Yeah, seburuk apapun persepsi saya di awal, kegiatan ini tetap memiliki manfaat positif untuk membangun mental dan membangun motivasi belajar. Karena kita dituntut untuk menyajikan sesuatu, maka kita harus memaksa diri untuk menyiapkan diri sebaik mungkin. Sesuai dengan kata pepatah, jika ingin pintar maka kita harus mau mengajarkan sesuatu kepada orang lain.
Hmm... Saya akan merindukan pengalaman ini.