Selasa

Let's talk about #passion


Sebelum rehat malam ini, saya mau mencoba berbagi renungan dengan teman-teman di seentaro negeri. Kali ini saya ingin berbagi pemikiran tentang makna berkarya. Saya teringat dengan nasehat salah seorang guru di kampus, bahwa membuat setiap apa yang kita lakukan sebagai sebuah mahakarya, maka kepuasannya akan berbeda, hasilnya pun akan berbeda. 

Berkarya bukan berbicara tentang benefit atau uang yang dihasilkan dari suatu tugas atau pekerjaan,tapi kebanggaan setelah melakukannya. Sesuatu yang membuat kita bisa berkata "we have did it!" Maka kita pun akan melakukannya dengan sepenuh hati dan semaksimal usaha. Apalagi yang kita kerjakan itu memang menjadi bagian dari passion kita. Ketika mengerjakannya, membuat hati riang. Dan setelah selesai pikiran menjadi senang.  

Berbicara mengenai passion, beberapa teman membenarkan bahwa mengerjakan sesuatu yang jadi passion kita akan membuat kita merasa hidup. Hidup dengan cara yang selalu menyenangkan tiap waktunya. Karena memang kita senang mengerjakannya. Dan sesuatu itu bisa bermanfaat buat diri kita, terlebih juga orang lain. 

Belajar dari pengalaman beberapa teman, terkadang mengerjakan mengerjakan hal yang menjadi passion kita, bisa menjadi ruang refreshing dikala tugas-tugas menumpuk ataupun suasana hati sedang jenuh. Semacam meletupkan energi kala engine kita sedang down.

Jika kita sudah menemukan apa yang menjadi passion kita, ada baiknya untuk mengembangkannya. Caranya dengan sharing bersama teman-teman sejawat yang memiliki passion sama. Obrolan-obrolan dengan teman sejawat bisa membantu kita menemukan ide baru. Ide-ide yang membuat kita bisa berkarya atau memberi solusi terhadap suatu permasalahan, sesuai dengan bidang yang kita tekuni.

Obrolan juga akan bisa lebih berkembang jika teman-teman sejawat yang punya passion sama tersebut, punya latar belakang bidang yang berbeda.  Ide awal yang sederhana bisa jadi makin kaya ketika diberi tambahan bermacam-macam perspektif. Memperbanyak obrolan positif dengan banyak orang positif akan membantu mengembangkan ide kita. Obrolan akan memperkuat ide kita.

Nah, jadi mulai sekarang, yuk kita mulai menyelami passion kita, lanjutkan dengan sharing bersama teman-teman positif, temukan ide-ide keren dan eksekusi bareng-bareng. Keliatannya, akan selalu menjadi hal yang seru deh. Gimana menurut rekan-rekan?


Minggu

Mahasiswa Bicara!




Seperti halnya perokok, semua perokok tau bahwa merokok itu berbahaya bagi kesehatan dan merugikannya secara ekonomi. Tapi tak pernah mudah bagi perokok untuk menghentikan kebiasannya itu. Maka, jika sebuah negara ingin mengurangi jumlah perokok, bukanlah dengan cara menyuruh perokok berhenti dengan menakut-nakutinya, atau membatasi hak perokok untuk merokok sementara penjual dan industri rokok dibiarkan begitu saja. Jika ingin mengurangi jumlah perokok, hal yang paling ekstrem (jika berani) adalah dengan melarang industri dan juga peredaran rokok. Tetapi yang paling bijak adalah, dengan mencegah perokok-perokok baru (yang nantinya akan sulit berhenti merokok). Lakukan edukasi terhadap para pemuda yang sering memulai ‘belajar’ merokok karena alasan-alasan yang remeh-temeh, gengsi, misalnya. Perketat larangan penjualan rokok pada anak di bawah umur. Atau, upaya-upaya lain yang preventif, bukan mengurusi yang sudah terlajur jadi perokok.

Nah, ibarat persoalan rokok, memberesi mental jurnalis untuk melahirkan generasi jurnalis dan jurnalisme yang berkualitas, akan sulit dilakukan pada para jurnalis yang sudah dikotori oleh berbagai tekanan dan kepentingan seperti yang sudah dibahas di atas. Untuk melahirkan generasi jurnalis yang baik, akan lebih efektif jika dilakukan dengan menanamkan nilai-nilai jurnalisme yang ideal itu di kalangan generasi baru, baik yang sudah menjadi jurnalis, maupun yang baru berstatus calon atau bercita-cita menjadi jurnalis.

Pers kampus - yang dikelola oleh mahasiswa atau pelajar -  adalah generasi emas. Mereka adalah generasi pers yang masih polos atau bersih. Mereka masih cenderung bebas dari kepentingan. Mereka masih cenderung bebas dari tekanan. Mereka harus dijaga agar tetap seperti itu, ketika suatu saat mereka terjun ke dalam dunia jurnalistik yang nyata. Berilah mereka imunisasi agar kebal dari infiltasi kepentringan, juga kekuatan untuk menghadapi tekanan, dan kukuh dalam idealisme jurnalisme yang sesungguhnya.

Tulisan-tulisan dalam buku ini adalah hasil dari upaya untuk belajar menjadi generasi pers yang bebas dari kepentingan dan tekanan. Tidak perlu rasanya memperdebatkan atau menggugat hasil yang tertampak –yang mungkin masih banyak kekurangan di sana-sini, terutama dalam hal teknis. Karya-karya ini bukan hasil akhir, tapi proses. Proses untuk menjadi jurnalis yang peka terhadap persoalan di sekitarnya, jurnalis yang bebas menyuarakan kata hatinya, jurnalis yang bebas dari kepentingan, jurnalis yang memegang teguh idealismenya, taat pada rambu dan etika jurnalisme, dan proses untuk menjadi jurnalis yang membawa manfaat bagi khalayaknya. 

Buku ini diterbitkan atas kerjasama:
Program Studi Ilmu Komunikasi Uin Sunan Kalijaga Jogja
Komunitas Rumah Inspirasi Idekata
dan Penerbit Galuh Patria

Informasi Pemesanan:
Amin [0818 0391 2005 ] 

galuhpatriapublishing@gmail.com

Jumat

Cepatnya Sebuah Kematian


Ada cerita, moga berguna....

Seusai dhuha pagi ini, ingatan saya melayang jauh ke masa-masa awal kuliah dan berpindah kos. Tersebutlah seorang wanita paruh baya berperawakan gemuk. Saya memanggilnya Bude Nar. Beliau adalah kakak dari Pak Gun, pemilik kos yang saya tinggali sejak awal kuliah. Kami para anak-anak kos mengenalnya cukup dekat. Dari seluruh anggota keluarga Pak Gun, beliau lah yang paling dekat. Karena beliau yang lebih sering mengurusi administrasi kos-kosn. 

Bude Nar cukup disiplin mengenai kebersihan kos kami. Jika plastik sampah mulai penuh, beliau akan mengingatkan agar kami segera membuangnya. Jika mengecek kamar mandi dan menemukan bekas sachet sampoo yang tidak di buang di tempat sampah, beliau langsung memperingatkan teman-teman kos yang di temuinya. Jika kamar mandi mulai kotor, beliau langsung mengingatkan penghuni kos untuk membersihkan. Selang sehari, biasanya kami pun langsung melakukan operasi eksekusi sesuai komando dengan personil penuh. Dan setelahnya, teh panas dan gorengan selalu tersedia di meja tamu, siap tuk kami santap.

Saya pribadi juga mengenalnya cukup dekat. Saya sering diminta tolong berbagai hal. Karena mungkin usia Bude Nar sudah menginjak lanjut, beliau agak kurang akrab dengan berbagai gadget yang dimilikinya. Jika ada trouble, saya sering dipanggil untuk mengutak-atik. Beliau juga sering bercerita tentang penyakit yang dideritanya setiap selesai check up.

***

Enam bulan yang lalu, saya mendapat tugas pengabdian masyarakat. Karena tinggal cukup jauh di luar kota, saya jarang pulang ke kos. Jika ada urusan yang cukup penting, barulah saya ke kota. Kurang lebih sebulan bertugas, saya mendapat kabar kalau Bude Nar jatuh sakit dan harus opname. Saya cukup kaget. Karena tak banyak yang bisa kami lakukan, kami hanya mendo’akannya agar segera sembuh. Akhirnya selang beberapa hari, beliau sudah baikan dan di ijinkan pulang.

Seusai masa tugas, saya kembali ke kos. Bude Nar sempat bercerita tentang penyakit terakhir yang dideritanya. Saya mendapati perawakannya sudah berubah dari semenjak saya berangkat bertugas. Beliau tampak kurus dan tertatih-tatih. Mungkin karena penyakit yang dideritanya.

Empat bulan yang lalu, saya mendapat tugas kerja keluar daerah. Selama itu saya tidak mengetahui kabar beliau. Sampai sebulan yang lalu saya kembali pun, teman-teman kos hanya tahu kalau beliau dirawat dikampung halamannya, Magetan.

Tiga hari yang lalu, saat sedang mencuci sepeda motor. Sayup-sayup saya mendengar suara memanggil nama saya. Beberapa saat, saya kebingungan mencari asal suara. Sampai akhirnya saya mengetahui asal suara, yaitu dari dalam rumah. Saya memastikan itu suara Bude Nar. Beliau meminta saya masuk. 

Setelah mengucap salam, saya masuk ke dalam rumah. Saya kaget luar biasa mendapati Bude Nar terbaring lemah di atas kasur. Hanya wajah kurusnya yang tampak. Saya sempat tak percaya, kalau ternyata selama ini beliau dirawat di rumah. Sambil berbicara lirih, beliau meminta tolong saya untuk memanggilkan salah seorang tetangga rumah. 

Tadi malam, pukul 22.15 saat sedang berdiskusi dengan beberapa teman, saya mendapat sms dari salah satu rekan kos. “Inna lillah wa inna ilaiha raji’un… Bude Nar wafat, barusan jam 10”. Dalam hati saya mengucapkan tarji’. Selama beberapa saat, saya tercenung mendengar kabar duka ini. Tak menduga jika beliau pergi secepat ni. Tak menduga jika kemarin adalah permintaan tolong terakhir beliau.

Sepulang ke kos, saya langsung ikut sholat jenazah bersama rekan kos, keluarga dan tetangga yang lain. Setelah di sholatkan, kami turut menghantar jenazahnya ke mobil ambulans. Rencananya, beliau akan dimakamkan di Magetan.

Kembali ke pagi ini, saya mencoba merenung. Menyelami makna yang tersimpul dalam perjalanan waktu ini. Kematian selalu mengingatkan akan batas waktu hidup kita. Melewati berbagai tahapan dalam hidup kita, kala menghampiri orang-orang yang kita kenal. Sangat cepat. Tak terduga.

Bagaimana jika selanjutnya kita? Apa kenangan yang ingin ditinggalkan di memori orang-orang yang mengenal kita?

Mari bermanfaat tuk sesama.

Sabtu

Ketulusan Warga Jogja



Ada cerita menarik pagi ini, moga menginspirasi....

Seperti biasa, pagi hari saya berjalan-jalan di sekitar kosan. Walaupun secara administratif masuk dalam wilayah Pemerintah Kota, namun daerah tempat saya tinggal tidak begitu ramai seperti layaknya wilayah lain. Suasana kampung masih kental terasa. Setiap pagi masih banyak warga yang berjalan jalan untuk merenggangkan badan. Di pinggiran jalan, beberapa ibu-ibu menjajakan jajanan tradisional dan sarapan pagi. Bapak-bapak penjual soto juga tampak menikmati racikan masakannya. Dagangan mereka tak pernah sepi. Benar-benar nafas kehidupan penuh harmoni.

Setelah berlari-lari kecil memutari perkampungan, tak beberapa lama saya dikejutkan dengan suara keras. 

Brakkkk.....

Sebuah kecelakaan terjadi tak jauh di depanku. Seorang gadis muda tampak terkapar di jalan. Posisi kepala belakang membentur aspal. Beruntung, helm putih si gadis masih melekat kuat. Sehingga dapat meredam kerasnya energi yang menghantam. Saya tidak melihat persis kronologi kejadian. Karena kecelakan itu begitu cepat. Secepat laju kendaraan si gadis.

Serentak ibu-ibu dan bapak-bapak yang ada di sekitar lokasi langsung menghampiri gadis tersebut. Membopongnya ke pinggir jalan. Memberikan pertolongan pertama dan berusaha menenangkan kondisi. Si gadis tampak masih terkejut dengan kejadian yang menimpanya. Seorang bapak paruh baya segera membawakan air putih dari dalam rumahnya. Seorang ibu memastikan kondisi tubuh si gadis tidak terluka parah. Seorang bapak lainnya berusaha menegakkan tubuh si gadis dan melepas helm yang dikenakannya. Seorang ibu yang lebih muda mengusap-usap kening si gadis dan mengajaknya bicara. 

Tak lama, si gadis mulai tampak tenang. Bernafas pelan teratur. Dan mampu menjawab. Ia berterima kasih dan mengatakan dirinya tak apa-apa. Alhamdulillah..

Saya tertegun mengamati kejadian itu. Dalam hati saya mensyukuri dapat menyaksikan kejadian pagi ini. Saya bersyukur menjadi saksi kebaikan dan ketulusan dari bapak-bapak dan ibu-ibu tersebut. Kebaikan dan ketulusan yang mungkin mulai luntur di tempat lain. 

Yeah, Yogyakarta di balik pacu derap langkahnya, tetap tak meninggalkan jati dirinya. Selalu menawarkan senyum tulus bagi siapa pun yang menghampirinya.

Yogyakarta selalu berhati nyaman. Bagi siapapun. Semoga sampai kapanpun. 
Terimakasih, saya belajar sesuatu hari ini...

Selasa

Mengajar Atau Membuat Kapok?


Ada cerita, moga berguna...
Sebuah cerita sore hari ini. Saya persembahkan untuk orang tua, calon orang tua, guru, pendidik dan semua orang yang berinteraksi dengan anak-anak.


Tadi sehabis maghrib, seperti biasa saya mengajar ngaji anak-anak di masjid dekat kos. Namun, ada yang mengejutkan saya hari ini. Di salah satu sudut masjid ada seorang ibu, yang merupakan guru ngaji tetap di masjid itu, sedang marah dengan hebat. 

Perkaranya ada salah satu anak yang dituduh "melompat" halaman, sehingga hampir khatam (selesai-Pen) lebih cepat. Si anak berusaha membela diri dengan nada lirih. Namun si ibu semakin keras memarahi si anak. Hingga akhirnya si anak menangis. Si ibu tak kunjung berhenti memarahi.

Saya tidak tahu siapa yang benar dalam kondisi ini. Saya hanya amat sangat kecewa dengan cara si ibu. Dalam hati saya bertanya, "Bu, anda mau mengajar anak mengaji atau malah mau membuat anak kapok mengaji? Apa ibu tidak berfikir akibat jangka panjang kemarahan berlebihan ini?"

Bisa jadi si anak memang salah. Namun saya kurang setuju jika dia dihakimi sedemikian rupa dihadapan teman-temannya. Menurut saya, anak-anak memang terkadang mempermainkan sesuatu. Mengaji sambil bermain. Sholat sambil bermain.  Belajar sambil bermain. Namun, itulah dunia mereka. Kita saja lah yang terlalu serius. Dan memaksa anak-anak untuk ikut serius. 

Kejadian serupa mungkin bukan kali pertama terjadi. Di tempat-tempat belajar lain, di ruang-ruang kelas, bahkan di rumah pun, anak-anak selalu menjadi objek pelampiasan emosi kita para orang tua. Anak-anak bukanlah seperti tanah liat yang bisa bebas kita bentuk dan warnai menjadi keramik seperti yang kita suka. Mereka terlahir dengan bentuk dan warnanya sendiri. 

Tugas kita adalah menempatkannya pada tempat yang tepat, memolesnya agar warnanya semakin cerah dan merawatnya agar mereka bisa menjadi keramik yang bernilai tinggi. Jika mereka salah, kita bisa memberi nasehat dengan cara yang bisa diterima mereka. Kita sebagai orang tua, katanya lebih dewasa, lah yang harus menyesuaikan diri dengan anak-anak.

Sambil terus melanjutkan mengajar ngaji, tidak sadar si anak sudah duduk di belakang saya sambil tersedu. Saya menoleh, merangkul dan mengusap kepalanya sambil berusaha menghibur.

"Sudah ya dek, jangan nangis terus. Cah lanang kok (anak laki-laki kok-Pen). Ntar mas aja yang ngajar ngaji. Sekarang kita tos dulu"

Si anak membalas tos saya dan kemudian tangisnya terhenti. Saya pun tersenyum. 
Anak-anak memang hanya butuh dimengerti :)

Senin

Just The Beginning

Thank you to my Communication Department of UIN Sunan Kalijaga.
The souvenir look so good.

Thank you so much to my Dad & Mom for send me an awesome sovenir from Lombok.
It's mesmerized everybody here.

Our Corporate Affairs team. Full of passion to find great idea everyday!

Great father, great son!