Minggu

Dari Jogja, untuk Indonesia (YOT BIG 5)



Hari ini, 6 April 2014, Young On Top (YOT) berulang usia yang kelima tahun. Sebagai bagian dari keluarga besar komunitas ini, kami ikut merasa bahagia dan terharu. Di usia yang menginjak lima tahun, YOT terus bergerak menebarkan inspirasi untuk anak-anak muda di Indonesia agar terus berprestasi dan mencapai sukses di usia muda.
Kami patut berterimakasih kepada Mas Billy Boen dan buku Young On Top. Buku kuning yang ditulis oleh Mas Billy ini telah menjadi buku panduan bagi kami para anak muda, untuk berprestasi dan bermakna bagi orang-orang disekitar kami. Buku ini pula yang mengumpulkan kami menjadi satu dan kemudian menghidupkan YOT Yogyakarta.

Ya, sejak akhir tahun 2012, ketika Young On Top terbentuk di Yogyakarta untuk pertama kalinya, buku kuning inilah yang mengumpulkan anak-anak muda Jogja ini untuk bertemu, berkumpul, dan kemudian merumuskan sesuatu yang belum pernah kami bayangkan sebelumnya.

Selanjutnya, dengan berpedoman pada buku kuning ini, kami membuat kegiatan-kegiatan yang melibatkan berbagai komunitas anak muda di Jogja. Perlahan tapi pasti, kami terus berupaya untuk menebarkan nilai-nilai Young On Top ke lebih banyak lagi anak muda di kota ini.

Kami harus bersyukur, kontribusi kami di kota Jogja perlahan mulai terasa. Berbagai aktivitas kami mendapat sambutan positif dari stakeholder. Kegiatan kami diliput media cetak dan media elektronik di Jogja. Kami pun sering dilibatkan dalam berbagai aktivitas komunitas lain di Jogja. Dalam berbagai event komunitas di Jogja, YOT Yogyakarta selalu masuk dalam list komunitas yang dilibatkan. Beberapa bulan lalu, kami mendapat kehormatan sebagai "The Most Inspiring and Outstanding Community in Yogyakarta" dalam sebuah event komunitas. Sebuah pencapaian yang tidak pernah kami rencanakan dan bayangkan sebelumnya.

Kami bersyukur bisa bertemu dengan anak-anak muda yang punya semangat sama di seluruh Indonesia. Mereka anak-anak muda yang juga menghidupkan semangat Young On Top di daerahnya masing-masing. Kesempatan ini merupakan kesempatan yang berharga. Karena melalui interaksi inilah, kita menyadari bahwa masih banyak anak muda yang berprestasi dan mau berkontribusi untuk masyarakat, bangsa dan negaranya.

Tak lupa, kami juga bersyukur bisa bertemu bisa bertemu para mentor dan anak-anak muda inspiratif. Mulai dari Pak Mardi Wu, Mas Henry Pradipta, Mbak Bunga Mega, Jonathan CS, Palmira Vidya, Citra Natasya, Sirly Nasir, Andita Dhanasti dan para mentor serta Campus Ambassador YOT lainnya yang sudah bersedia mengunjungi dan berbagi dengan kawan-kawan di Jogja.

Mungkin, apa yang kami lakukan di kota kami masih belum  ada apa-apanya jika dibandingkan dengan apa-apa yang sudah dilakukan teman-teman lain di kota mereka masing-masing. Tapi kami berkomitmen untuk terus produktif dan menjadi bagian dari anak-anak muda yang membangun Indonesia. 

Seperti yang Mas Billy Boen ungkapkan, semangat YOT adalah milik anak muda Indonesia. Karena itu, YOT akan terus berkontribusi untuk Indonesia. Kami ingin menjadi bagian dari cita-cita ini. Kami ingin menjadi pondasi  dari bangunan mimpi besar ini. Kami akan menjadi pondasi di kota kami. Semoga pondasi ini akan menguatkan dan memberi peran yang berarti.

Sebuah bangunan yang besar, selalu memiliki pondasi kecil yang menyokong di bawahnya. YOT Yogyakarta adalah salah satu pondasi kecil itu. Oleh karenannya, kami akan terus mendo'akan. Kami pun akan terus menguatkan. Kami berkomitmen untuk terus berkontribusi di kota pelajar ini. Kami akan terus menebarkan nilai-nilai YOT di salah satu kota penting di Indonesia ini

Young On Top, teruslah berkontribusi untuk Indonesia, teruslah menginspirasi lebih banyak lagi anak muda Indonesia, dan teruslah bergerak untuk mencapai misi YOT : to create a stronger next generation of Indonesia.
Selamat berulang usia Young On Top. Do'a kami bersamamu. 

Dari YOT Jogja untuk Indonesia.
Program Director

Sekolah Gajahwong, Kontribusi Pemuda untuk Pendidikan di Jogja

Idealnya, setiap anak memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan. Tak peduli dari kalangan manapun dia berasal.

Namun, di Kota Yogyakarta, yang notabenenya adalah kota pendidikan, ada sebagian anak-anak yang belum mendapatkan hak-hak pendidikan mereka.

Ini cerita tentang sekelompok anak muda, yang berjuang memberikan pendidikan bagi anak-anak perkampungan miskin di Yogyakarta, Ledhok Timoho

________________________________________­________________________

Ideally, every child has the right to get a formal education. No matter wherever he came from.

However, in the city of Yogyakarta, which has branded as an education city, there are some children who have not received their education rights.

It's a story about a group of young people, who are struggling to provide education for children in a marginal region in Yogyakarta, Ledhok Timoho.








Selasa

Mangrove Planting Project



Hari Ahad (19/01) kemarin, kami melakukan kegiatan peduli lingkungan "YOT Mangrove Planting Project" di Delta Baros, Pantai Samas, Bantul, Yogyakarta dalam rangka memperingati Hari Satu Juta Pohon. Kami mengajak masyarakat untuk melakukan aksi penanaman bibit pohon bakau dan berbagi pengetahuan tentang pentingnya peran pohon bakau bagi daerah pesisir pantai. 

Kami melibatkan lebih dari 100 anak muda Yogyakarta yang tergabung dalam berbagai komunitas sosial dan lingkungan untuk ikut terjun menanam pohon Bakau. Komunitas-komunitas anak muda yang berpartisipasi diantaranya LMen Yogyakarta, HiLo Yogyakarta, Code Pintar Yogyakarta, Kopi Liar Indonesia, Jogja Berkebun, Kaki Gunung Merapi (KAGEM), Forum Masyarakat Mahasiswa Peduli Lingkungan (FM2PL), Mahasiswa Pecinta Alam UPN “Veteran” Yogyakarta, Green Technology Yogyakarta, Himpunan Mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar UNY, KEMANGTEER, Gerakan Fajar Nusantara (GAFATAR) Yogyakarta, Mangrove Instiper Club (MIC) Instiper Yogyakarta, Accounting Study Club (ASC) Yogyakarta, Pramuka SMP Bantul dan Fruit Talk Yogyakarta.

Kami berharap, aksi penanaman bibit pohon Bakau ini dapat memberikan kontribusi secara nyata kepada masyarakat setempat. Setelah ditanam, bibit bakau akan dirawat dan dipantau pertumbuhannya oleh masyarakat. Melalui kegiatan ini, kami berkeinginan penananaman pohon Bakau di daerah Delta Baros, pantai Samas, Bantul, Yogyakarta ini dapat mencegah dampak abrasi dari gelombang air laut pantai selatan.

Terimakasih kepada rekan-rekan komunitas dan media yang telah berpartisipasi dalam kegiatan ini.
Salam.

_________________________

YOT Yogyakarta is a youth platform to create strong and positive communities nationwide by giving inspirations. We connect youth communities with actions and collaborations to make a powerful impact for youth and societies, for their brighter future.


Selasa

YOT Walk Memperingati Hari AIDS Se-Dunia
















Memperingati hari AIDS se-dunia yang jatuh tepat pada tanggal 1 Desember 2013, Young On Top Yogyakarta mengadakan #YOTWalk bertemakan "Jalan Sehat dan Bersih Jalan."

#YOTWalk diadakan di sepanjang Jalan Malioboro Yogyakarta, dimulai dari depan Hotel Ina Garuda dan finish sampai titik 0 km Yogyakarta. 

Young On Top Yogyakarta, dalam #YOTWalk ini, juga mengajak YOTers, anak-anak muda Yogyakarta, dan komunitas-komunitas yang concern di bidang lingkungan dan kesehatan, diantaranya Earth Hour Jogjakarta, HiLo Yogyakarta, Green Technology, L-Men Yogyakarta, Jogja Berkebun, Yayasan KAGEM, dan masih banyak lagi yang lain.

Young On Top Yogyakarta mengucapkan terima kasih dan memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh YOTers yang terlibat, para media partner dan instansi pemerintah, teman-teman komunitas, yang semuanya telah ikut membantu mensukseskan kegiatan ini. Mari terus jaga kontak, jaga semangat, untuk kolaborasi dan beraksi!

Project #YOTWalk ini didukung oleh Badan Lingkungan Hidup Provinsi DI Yogyakarta, Hotel Inna Garuda, Kedaulatan Rakyat, Tribun Jogja, Jogja TV, Adi TV, Jogjaku, dan Jogja Wisata

See you on TOP!

Minggu

Jadi Pemuda Aktif Ala YOT - Jawa Pos



Alhamdulillah, Jum'at kemarin (15/11/13) YOT Yogyakarta berkesempatan tampil di rubrik Town Square Radar Jogja | Jawa Pos. Saya sangat berterimakasih kepada saudara Rygen dan Aris yang sudah bersedia meliput.

Liputan YOT Yogyakarta kali ini adalah seputar menjadi pemuda aktif. YOT Yogyakarta mengajak anak-anak muda Jogja untuk saling belajar dan berbagi melalui berbagai diskusi dan kegiatan positif. Semangat YOT Yogyakarta ini direpresentasikan dalam berbagai YOT Class yang diadakan tiap bulan. Melalui YOT Class, YOTers, panggilan akrab anggota YOT, bisa bertukar pengetahuan baru yang didapat dari pengalaman sehari-hari.
Dalam setiap sesi YOT Class, YOT Yogyakarta selalu menghadirkan inspirator-inspirator yang punya prestasi di bidangnya.

Senang sekali rasanya, komunitas yang hampir genap setahun di Jogja ini mulai melangkahkan kakinya ke pentas yang lebih besar.

Ya, dengan penambahan sejumlah personil pengurus, YOT Yogyakarta siap membuat beberapa kegiatan positif untuk anak muda Jogja. Nantikan saja beritanya ya kawan :)

Sabtu

Problematika Sampah di Lombok


Beberapa waktu lalu, saya berbagi pemikiran dengan beberapa sahabat mengenai permasalahan yang ada di pulau Lombok, NTB. Fokus permasalahan yang saya angkat mengenai sampah. Saya memanfaatkan social media untuk mengangkat permasalahan ini menjadi topik diskusi. Berikut cerita lengkapnya:

Okey,kita mulai sharing malam ini tentang problematika sampah di lombok. Sharing ini bersifat terbuka. Jadi kalau ada rekan-rekan yang mau menanggapi, sangat dipersilahkan. Kita mencari solusi bersama.

Saya meninggalkan lombok cukup lama. Beberapa tahun saya habiskan untuk akhirnya bisa kembali sejenak. Banyak sekali yang berubah,terutama dari pertumbuhan penduduk di wilayah kota Mataram. Hal ini tampak dari pertumbuhan perumahan di wilayah2 pengembangan kota Mataram. Beberapa tahun lalu, di samping kanan, kiri dan belakang rumah saya adalah area persawahan. Tapi sekarang,sawah-sawah itu sudah berubah menjadi komplek-komplek perumahan. Sungai-sungai tempat saya & rekan-rekan masa kecil dahulu mencari ikan, sudah diapit oleh tembok-tembok.

Nah,pertumbuhan pemukiman di lombok ini tentu memunculkan problematika baru. Salah satunya adalah sampah. Setelah berkeliling selama dua minggu ini, saya memandang bahwa sampah menjadi problem cukup serius di lombok. Di batas wilayah pemukiman-pemukiman, biasanya ada titik pembuangan sampah "liar". Yang saya maksudkan "Liar" dalam arti, sampah tidak dikelola oleh dinas kebersihan kota. Masyarakat membuang sendiri di titik itu,hingga menumpuk. Sisi negatif yang muncul dari titik sampah "Liar" itu adalah bau yg tak sedap dan pemandangan yg kurang nyaman. Padahal, seiring dengan pertumbuhan ekonomi lombok, permasalahan sampah ini harus mulai dianggap serius. Kita perlu belajar dari tetangga terkait hal ini.

Ternyata, problematika sampah ini juga tidak hanya terjadi di daerah kantung urban lombok tetapi juga di wilayah pedesaan. Kemarin saya berjalan-jalan ke daerah KarangBayan. Saya juga menemukan tumpukan sampah hingga menggunung di batas salah satu desa. Sampah yang ada di salah desa itu juga berserakan di sepanjang jalan setapak menuju area perkebunan dan persawahan.

Tadi pagi,saat saya hendak menanam pohon Glodokan Tiang di pinggir ruas jalan depan halaman rumah. Saya jg menemukan banyak potongan kecil sampah plastik. Perbandingannya,dalam volume lubang 30 x 30 x 50 cm, saya menemukan potongan sampah plastik hingga mencapai volume 150 ml kemasan botol air kemasan.

Kebayang kan, kualitas tanah di sekitarnya? Dan ini bakal berlangsung hingga bertahun-tahun. Padahal sampahnya sendiri sulit terurai. Yang diperlukan memang campaign buat penyadaran,agar masyarakat ngurangi habit buang sampah sembarangan di jalan. Atau dengan pengelolaan Bank Sampah berbasis gotong royong seperti yang dikembangkan di Jogja.

Mungkin, ada rekan-rekan yang punya metode pengelolaan sampah yang baik, mau menyempatkan berbagi ilmu dan pengalamannya di lombok? Saya dengan senang hati melanjutkan diskusi sampah ini lebih serius dg rekan-rekan yang mau membantu.

Itu sekilas cerita dari lombok dengan problematika sampahnya..

Bagaimana ceritamu?

Saya bersyukur, ternyata banyak sahabat-sahabat yang peduli dengan permasalahan ini. Hal ini tampak dari feedback yang mereka berikan terhadap topik diskusi saya. Berikut beberapa ide mereka yang berhasil saya kumpulkan

Andra Muhammad Afkhori:
sampah it di mulai dr ksadaran diri....dan pemerintah jg harus memfasilitasi dg diperbanyak tmpat smpah.....

Terabyte Damn:
pake bahasa yang awam vid.. masyarakat kita kalo diterangin pke wawasan2 luas dan bahasa2 yang agak berat bakal susah diterima. :)

Muhamad Rifefan: 
Kalo di sleman (tmpt KKN) Hubungi dinas PU ,biasanya akan ada tindak lanjut.

Untk edukasi pengelolaan sampah ada dari KLH(kantr ling hdup) stempat :)

Terabyte Damn: 
temui tokoh2 masyarakat setempat... ajak diskusi...
atau ente bisa adakan acara yang melibatkan masyarakat setempat. seperti lomba2..
lomba kebersihan mungkin..

atau adakan acara yang kiranya menarik masyarakat sana untuk mengikuti acara tsb. kemudian d puncak acara, baru ente ajakin mereka untuk belajar bagaimana mengelola sampah.

itu sih klo dari gw vid

Erny Mardhani: 
Liat website www.bordasea.org trus cri bidang DESWAM ada video juga ttg metode pengelolaan sampah skala rumah tangga dri kasus2 beberapa daerah di indonesia. Smoga bisa membantu bidang tsb khusus pengelolaan sampah berbasis komunitas skala rumh tangga bung

Amin Fadlillah: 
ada satu kelurahan di bilangan jakarta bisa mengatasi masalah ini, pernah di liput tv juga tapi lupa nama tempatnya.hehe

Kresna Wijaya Muladi: 
coba lihat gimana kondisi TPA nya.. apakah sudah ada TPA atau belum?? apakah masih memenuhi standar atau belum?? jika masih memenuhi standar, dan tempatnya cukup terjangkau, kenapa tidak dibuatkan sistem pengangkutan sampah yang lebih baik saja.. setidaknya untuk sementara, menimbang dinas kebersihan tidak mempunyai cukup armada untuk mengangkut sampah tersebut. ini bisa dijadikan bisnis pengangkutan sampah yang menguntungkan. memang solusi yang ditawarkan belum berbasis sustainable development, tetapi cukup untuk mengatasi kondisi sementara dan menjadi lahan keuntungan..

Muhamad Rifefan: 
Mungkin bank sampah bisa jadi alternatif, dan juga gerakan memilah sampah,serta pengedukasian bhwa sampah itu ga cuma harus dibuang tapi juga dikelola

Yg jadi masalah umumnya menjaga konsistensi pengelolaan sampah itu sndiri,manajemen dan SOP harus dibuat sesuai dgan pemahaman masyrakat skitar, kdang ide kita terbentur ama realita dilapangan, ya itu lah tantangannya.

Jadi kalo menurutku,mending sadarkan dulu masyarakatnya. . Nanti kalo udah tercerahkan,masyarakat akn bergerak dan bhkan bkal bnyak opsi dari masyrakat itu sndiri.
Jgan terburu bkin ini itu yg mereka belum ada kesadaran untk menggunakan :)

Husni Bramantyo:
Menanggapi cerita intine doang dulu: Kenapa buang sampah di situ?

Faktanya seperti itu, insightnya seperti apa?
(´Oƪ)°˚

Iqbal Muhammad Yaris: 
dijakarta sampah sngat banyak betebaran bukan pada tempatnya, akan tetapi karena banyak pemulung dan ada orang yg sadar tentang nilai ekonomis dri sampah malah sampah2 trsebut diduitin, yg malah menjadi PR besar pemda adalah pola hidup masyarakat yg mau praktis membuang sampah digot/drainasee atau sungai2 bahkan yg paling parah BKT (banjir kanal timur)yg diperuntukan untuk menambung air berlebih dijakarta ketika musim hujan sudah mulai banyak sampahnya. makanya tidak heran apabila pemda menganggarkan lebih dari 1T setia tahunnya masalah sampah ini tidak slsai dari mengangkatan sampah disungai yg setiap harinya lebih dari 30truk dan pengerukan got2 dan drainase, mungkin lebih trpat apabila ini dimulai dari manusianya itu sendiri, mungkin dengan menggiatkan kampanye pola hidup sehat salah satunya dengan membuang sampah pada tempatny.

Fie Wayah Hambali Mantap:
pak Bos.. Salah satunya "Bali ndeso Bangun Ndeso!!" Ayoo pak Mufid, jadilah penerus perjuangan kemakmuran rakyat Lombok.. Lanjutkan!!

Khoirunnisa Fatmawati: 
Sampah selalu jadi problem utama di berbagai daerah. Mmm..tapi kalau sudah ttg sampah begini, jangan sampai kita jadi kacang yg lupa kulit kayaknya ya. Buat gerakan semacam 100 bak sampah saja kayaknya. Jadi membiasakan masyarakat u/buang sampah pd tempatnya. Baru kemudian kita cari altenatif sampah itu akan dikemanakan. Bisa jadi dengan lebih memberdayakan UKM kerajinan tangan dan fokuskan pd kesejahteraan pengelola sampah. Itu pendapatku mufiid.. :D

Ali Abdoell:
Top Down aja fid, buat kesadaran mengenai "Dampak Drainase" melalui orang-orang yang memiliki power di daerah tersebut. misal: ketua RT/RW dan kepala desa setempat.

Khoirunnisa Fatmawati: 
Insya Allah Mufid. Nanti cepat atau lambat kita harus action nih, agar nggak ada kejadian kayak di film Wall-E. Agak curiga juga kalau problematika "gunung sampah" ini akibat lunturnya hakikat gotong royong dalam masyarakat. Harus segera kita benahi..

Brian Ferry Anggara:
saya mungkin gak begitu bisa baca 1 persatu alasan atau masukan diatas sebelumnya cm saya sepakat dengan beberapa ide diatas> menurut saya pribadi kesimpulannya yg ada diatas adalah 1. kita lihat TPA apakah memungkinkan untuk pembuangan. 2. bisa menggunakan pemda untuk hal penaganan karna mereka yg punya peralatan. 3. timbulkan kesadaran tentang kebersihan mulai dari lingkungan sendiri atau lingkungan yng gampang untuk disadarkan dan dibina atau dibimbing dan berlanjut ke kawasan yg lainnya sesuai dengan regional atau ring. untuk pendekatan atau sosialisasi dengan bantuan tetua atau kepala desa setempat bisa digunakan kedekatan emosional tentunya. 4. ada baiknya pergunakan bang sampah tentunya untuk memudahkan. masalah dr pada sampah ini sendiri adalah kemana kita akan meleburnya dan apakah sampah bisa dijadikan uang atau pemasukan? mungkin sgala sesuatu sudah terpikirkan oleh saudara mufid sendiri cm gak akan bisa berfungsi tanpa ada dukungan dr lingkungan dan pemda setempat.